Energy, Economy and the Environment Discussion - Discussing energy management, renewable and non-renewable energy sources, the latest economy issues related to energy, the environment, and climate change.

ENERGY MANAGEMENT - ENERGY SOURCES - RENEWABLE ENERGY - ENERGY ECONOMICS - LATEST ENERGY ISSUE -ENVIRONMENT

Audit Energi Gedung

Kegiatan untuk mengidentifikasi dimana dan berapa energi yang digunakan serta berapa potensi penghematan yang mungkin diperoleh dalam upaya mengoptimalkan penggunaan energi pada fasilitas atau sistem gedung

Energi Terbarukan Dan Konservasi Energi

Energi terbarukan tersedia melimpah di alam penggunaannya ketersediaannya tidak pernah habis dan tidak merusak lingkungan - Konservasi energi adalah melestarikan energi dengan penggunaan yang efisien dan bijaksana

Manajemen Energi

Manajemen energi adalah pengelolaan energi secara komprehensip secara nasional dan lokal dengan mengikuti kaidah-kaidah manajemen untuk mencapai kemakmuran bersama

Efisiensi di Industri

Industri yang menerapkan sistem manajemen energi dan melakukan program efisiensi energi akan memiliki daya saing yang tinggi karena biaya energinya lebih rendah

Kebijakan Energi Nasional

Kebijakan energi Nasional (KEN) yang menerapkan sistem manajemen energi yang benar, Menerapkan prinsip berkeadilan keberlanjutan dan berwawasan lingkungan, memperhatikan kaidah-kaidah efisiensi energi dan menggunakan energi secara bijaksana akan memberikan kemakmuran bagi rakyat

Senin, 25 April 2011

Ketahanan Energy Indonesia 25 tahun lagi Rapuh……. Revolusi!!

Semua orang yang berkepentingan dengan energi Indonesia saat ini sedang ribut dengan masalah energi Indonesia yang tidak kunjung normal. Masalah memang adalah fenomena hidup tapi masalah energy yag tengah dihadapai Indonesia sudah tidak normal lagi. Pada umumnya ada tiga kondisi energi yang biasa dihadapi suatu negara, pertama kondisi normal atau bisnis as usual dimana kondisi suplai dan demand berada pada jalur yang bisa dikontrol dan dimanage (manageable), kedua kondisi krisis energi yaitu kondisi dimana kondisi suplai dan demand energi mengalami gangguan yang cukup signifikant sehingga mengganggu proses normal terutama di Industri dan perekonomian tapi masih bisa diatasi sehingga kondisis suplai dan demand energy kembali kekesimbangannya. kondisi krisis ini telah terjadi di Indonesia sejak krisis moneter melanda Indonesia dan ini menyebabkan sejumlah hal terganggu seperti penurunan produksi industry kenaikan harga dan perlambatan ekonomi. Kondisi krisis yang terus menerus tanpa bisa diatasi untuk kembali kekondisi keseimbangannya akan berubah menjadi kondisi darurat energy. Saat ini kondisi energy yang dihadapi Indonesia sudah dalam stadium darurat energi, kita sedang mengalami darurat Energi, darurat energi berbeda dengan krisis energi, darurat energi karena gangguan suplai energi berlanjut terus dan menjadi permanen tak bisa direcovery dan berakibat tidak dapat dilaksanakannya program-program pembangunan. Darurat energy terjadi pada minyak bumi karena berkurangnya suplai BBM dari 1 juta barel per hari menjadi 900-an ribu Barel per hari menjadi permanen dan tidak bisa direcovery bahkan terus menurun sementara sumber-sumber lain tak ada, substitusi Bahan Bakar Nabati (BBN) seperti bioetanol dan biosolar yang pernah digembar-gemborkan sebagai program nasional hanya besar diomongan saja tapi kecil di lapangan. Selain itu kondisi darurat energy juga terjadi tidak hanya terbatas pada energy primer, ketersediaan listrik juga sedang dalam kondisi darurat terutama di luar pulau jawa, adanya pemadaman bergilir tiap hari adalah berita harian yang bisa terjadi di daerah utama penghasil energi primer seperti kalimantan dan sumsel..!

Kacau...benar-benar kacau negara pemilik batubara nomor tiga dunia dan penghasil CPO nomor satu dunia serta pemilik panas bumi nomor wahid... mangalami krisis energi dan bahkan di sebagian wilayahnya ada yang mengalami darurat energi....!!

Bagai tikus mati di lumbung padi.., memang karena tikusnya kebanyakan dan kekenyangan...mati terlindas mobil.

Apa yang salah...

secara konsep Indonesia ada tiga pilar management energi secara nasional yaitu :

1. Intensifikasi

2. Diversifikasi

3. Konservasi

Intensifikasi artinya negara melakukan ekploitasi sebesar-besarnya sumber energi yang ada. minyak disedot sebanyak-banyaknya, batubara dikeruk sebanyak-banyaknya dan lainnya begitu juga. Langkah ini cenderung tak terkendali karena godaan keuntungan yang besar didepan mata, apalagi adanya permainan pejabat pemilik ijin dengan komisi dan pungli serta korupsi.

seharusnya intensifikasi yang membabi buta bisa diredam dengan lebih mengedepankan diversifikasi sebagai upaya menyeragamkan bauran pemakaian energi (energi mix).

tapi nyatanya sampai sekarang diversifikasi energy utamanya energy terbarukan masih rendah porsinya dalam komposisi energi mix nasional. pemakaian energi panas bumi, air, angin, biomass dan nuklir sangat rendah dan tidak ramai. Ramainya cuma di wacana dan kontroversi seperti pemakaian energi nuklir. Seharusnya sudah 10 tahun lalu Indonesia punya PLTN komersial, nyatanya Prancis saja 70 % energy listriknya dari PLTN, Jepang 30 %, ggak ada ribut-ribut…karena sejatinya Indonesia sudah punya PLTN research sejak 1955 (Reaktor TriGa Mark, di samping kampus ITB)

Hal lain yang sangat menyedihkan adalah pilar ketiga yang sama sekali tidak dianggap dengan serius. Tiga puluh tahun lebih program konservasi energi tidak berhasil mengerem ekplotasi sumber-sumber energi dengan tak terkendali. masyarakat sama sekali belum paham apa itu konservasi energi, padahal konservasi energi dimaksudkan untuk mengamankan ketersediaan energi. langkah-langkah konservasi energi diantarannya program penghematan energi dan penggunaan sistem pengguna energi yang efisien baik di industri rumah tangga, transportasi, bangunan bahkan juga di pembangkit. Tak ada sama sekali aturan yang mewajibkan pemakaian peralatan pengguna energy yang efisiensi.

kesadaran konservasi energi yang baik secara nasional pun baru muncul tahun lalu. secara politis pemerintah baru sadar akan hal ini, baru tahun lalu dikementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memiliki lembaga setingkat dirjen yang mengurusi Konservasi Energi itupun masih berbagi urusan dengan energi terbarukan yaitu Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), padahal di negara lain lembaga ini setinggkat dirjen dan berdiri sendiri.

Pemerintah harus lebih keras berusaha untuk melaksanakan manajemen energi dengan baik. ketahanan energi tidak hanya amannya ketersediaan suplai energi yang sementara sebagian suplai itu didatangkan dari luar yang pada gilirannya akan menggerus devisa nasional dan menghambat program-program nasional seperti rencana pembatasan pemakaian premium di Jabotabek yang tidak jelas kapan akan dilaksanakan.

Pemerintah Indonesia harus lebih keras lagi melaksanakan 2 pilar terakhir dari management energi yaitu diversifikasi dan konservasi energi. Saat ini pilar utama ketahanan energi nasional adalah intensfikasi energi atau pengerukan yang berpijak pada minyak bumi sebagai acuan. Tapi apakah pemerintah tidak sadar atau tak mau tahu bahwa cadangan minyak bumi kita tinggal 20 tahunan lagi, gas 60 tahunan lagi dan batubara sekitar 130 tahunan lagi (PerPres Nomor 5 Tahun 2006 ; Blue print Pengelolaan energy nasional 2006 -2025). Dengan demikian konsep manajemen energy nasional berpijak pada sumber energy yang tidak signifikan dan cadangannya cuma tinggal 20 tahun lagi.

Jika pemerintah tidak bekerja lebih keras lagi dengan langkah-langkah progresif dan revolusioner dalam diversifikasi energy dan konservasi energy maka dalam 25 tahun kedepan ketahanan energy nasional akan berpotensi mengganggu ketahanan nasional, apalagi jika manajemen energy masih based-on oil energy alias oil minded. Gonjang-ganjing di timur tengah saja bisa membatalkan program pemerintah dalam pembatasan pemakaian premium di jabotabek, padalah cuma jabotabek. Seharusnya kekurangan premium bisa diatasi atau disubstitusi dengan bioetanol, jika program Bahan Bakar Nabati sungguh-sungguh dilaksanakan dengan kerja keras, karena sumbernya banyak sekali, bisa singkong, jagung atau umbi lainnya dan tidak harus dari tetes tebu yang perkebunannya terus berkurang. Jadi pertanyaan besar bagi kita, Bagaimana jadinya jika suplai minyak tak ada dari luar negeri untuk menutupi kekurangan saat ini, jelas jelas bisa mengganggu ketahanan nsaional karena bisa terjadi keresahan dan kerusuhan dimana-mana.

Dalam perpres no 5 tadi sampai 2025 minyak bumi masih memegang peran significant dalam bauran energy nasional (energy mix) itupun dengan catatan bahwa pemerintah berhasil melaksanakan program konservasi dan diversifikasi energy. Bagaimana jika pelaksanaannya ‘memble’ seperti yang sudah-sudah bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena minyak bumi masih sebagai sumber energy utama padahal Indonesia saat ini saja sudah sangat deficit minyak bumi.

Harus.. kita harus melakukan revolusi management energy kalau tidak ingin ketahanan energy nasional rapuh selama 25 tahun ke depan, Karena kita terlalu mendasarkan ketahanan energy pada energy yang tidak terbaharui terutama minyak bumi.

Ketahanan energy adalah pilar ketahanan nasional karena tak ada satupun makhluk hidup yang tidak butuh energy.

Dua puluh lima tahun ke depan pilar utama energy nasional harus Diversifikasi dan Konservasi Energi tidak mendasarkan pada minyak bumi.

Revolusi manajemen energi…. Atau mati…

Share:

Selasa, 02 November 2010

PEMBANGKIT LISTRIK MICRO, MINI HYDRO & PLTA

Hydro Power Jenis Run off River

Semua jenis pembangkit diatas dikategorikan sebagai Hydro Power Plant Perbedaan antara Mikrohidro, Minihidro dan PLTA adalah output daya yang dihasilkan. Mikrohidro menghasilkan daya lebih rendah dari 100 W, sedangkan untuk minihidro daya keluarannya berkisar antara 100 sampai 10000 W, jadi Pembangkit listrik diatas 10.000 W masuk kategori PLTA. Hydro Power Plant memiliki dua jenis yaitu yang run off river seperti terlihat pada gambar dimana air yang dimanfaatkan memiliki jalur terpisah dengan aliran sungai. Jenis ini banyak digunakan pada mini dan Micro Hydro seperti PLTA Asahan dan sejumlah micro hydro kecil.

Sementara jenis kedua adalah model on river jadi system tenaga air berada pada satu jalur dengan aliran sungai. Contoh run on ini adalah seperti pada PLTA jatiluhur dan Cirata. Secara teknis, Mikrohidro memiliki tiga komponen utama yaitu air (sumber energi), turbin dan generator. Air yang mengalir dengan kapasitas tertentu disalurkan clan ketinggian tertentu menuju rumah instalasi (rumah turbin). Di rumah instalasi air tersebut akan memutar turbin dimana turbinn akan menerima energi air tersebut dan mengubahnya menjadi energi mekanik melalui berputamya poros turbin. Poros yang berputar tersebut kemudian ditransmisikan ke generator dengan mengunakan kopling. generator menghaslikan energi listrik yang akan masuk ke sistem kontrol arus listrik sebelum dialirkan ke rumah-rumah atau keperluan lainnya (beban). Komponen utama Hydropower type Run off river
  1. Bendung
  2. Intake gate
  3. Conneting tunnel
  4. Sand trap
  5. Waterway
  6. Head tank
  7. Penstock
  8. Power house
  9. Turbine generator
  10. Tail race
  11. Switch yard
Bendung, Intake gate dan Connecting tunnel Bendung berfungsi untuk mengumpulkan air yang akan digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air. Dari bendungan ini air memasuki pintu masuk intake gate menuju saluran khusus air (connecting tunnel) yang keluar jalur sungai (run off river). Setelah melalui connecting tunnel maka air melewati sluran pembawa (water way) Sandtrap (pengendap pasir) Bak pengendap digunakan untuk memindahkan partikel-partikel pasir dari air. Fungsi dari bak pengendap adalah sangat penting untuk melindungi komponen-komponen berikutnya dari dampak pasir. Waterway Saluran pembawa (water way) atau juga dinamakan head race mengikuti kontur dari sisi bukit untuk menjaga elevasi dari air yang disalurkan dan menjaga energy potensial air tetap pada nilainya. Head Tank (Bak Penenang) Fungsi dari bak penenang adalah untuk mengatur perbedaan keluaran air antara sebuah penstock dan headrace, dan untuk pemisahan akhir kotoran dalam air seperti pasir dan kayu-kayuan. Penstock (Pipa Pesat/Penstock) Penstock adalah penyalur air dari head tank yang akan memutar turbine. Penstock dihubungkan pada sebuah elevasi yang lebih rendah ke sebuah sebuah Turbin Power House dan Tail race Dalam ruangan power house ini berisi peralatan utama pengubah energy potensial air menjadi energy listrik yaitu turbine generator beserta panel-panel listriknya dan system kontrolnya. Setelah memutar turbine air selanjutnya dikembalikan lagi kesungai melalui saluran khusus yang dinamakan tail race. Turbine – Generator Turbine generator berfungsi mengubah energi potensial air yang dijatuhkan melalui penstock menjadi energy listrik. Turbine ini dihubungkan dengan sebuah pulley pada generatornya sehingga sisi air dan listrik tetap terpisah. Untuk mengatur tegangan listrik yang berubah-ubah digunakan AVR (Automatic voltage regulator) pada generatornya. Switch yard Switch yard adalah Trafo pengubah tegangan yang bentuknya terbuka yang terletak di halaman (yard). Pada PLTA Mini Hydro tegangan output generator adalah 6 atau 11 KV. Karena jala-jala transmisi PLN tegangan tinggi berkisar 20 kV, 150 kV atau 250 kV, maka keluaran dari generator ini harus dinaikkan dulu menjadi sesuai kondisi yang ada di lokasi milik PLN.
renewable - reliable- realizable
Share:

Kamis, 08 April 2010

SKEMA PEMBIAYAAN ENERGY SAVING DENGAN ESCO


Apabila audit energi telah dilaksanakan di fasilitas industri, bangunan komersial ataupun  fasilitas lainnya maka hasil kegiatan audit energi itu perlu untuk dilaksanakannya implementasi potensi penghematan energi agar didapatkan penghematan energi dan biaya yang nyata. Implementasi penghematan/konservasi  ini ada tiga kategori yang direkomendasikan dari hasil audit energi suatu fasilitas yaitu :

1. Implementasi konservasi energi tanpa biaya/berbiaya rendah

2. implementasi konservasi energi berbiaya menengah

3. Implementasi konservasi energi berbiaya tinggi.

kategori tinggi rendahnya biaya impelementasi konservasi energi  relatif untuk masing-masing perusahaan. Bisa saja biaya yang rendah untuk satu perusahan justru masuk biaya yang tinggi untuk perusahaan lain. Untuk menilai tinggi rendahnya biaya masing-masing perusahan bisa menilai dari kepemilikan aset dan omset dari usaha yang dijalankannya.

Selain masalah tinggi rendahnya biaya, maka ketersediaan dana segar untuk impelementasi konservasi energi menjadi kendala yang harus diatasi perusahaan agar penghematan energinya dapat dicapai.

masing-masing perusahaan dapat mencari cara untuk menyediakan dana implementasi konservasi energinya, baik dari hutang ataupun dengan dana sendiri yang tentunya dihitung kelayakannya dari berbagai aspek.

Dalam praktek konservasi energi, pola pembiayaan dengan memanfaatkan penghematan biaya dari penghematan energinya dapat digunakan suatu pola yang dinamakan pembiayan dengan pola ESCO.

Pembiayaan investasi menggunakan pola ESCO, artinya  perusahaan dapat mengatur dan memilih pola pembiayaan yang paling tepat bagi kegiatan konservasi energi. Dengan pembiayaan ESCO ini dilakukan kerjasama antara penyandang dana dan suplier barang agar pembiyaan baraaang dapat dibayarkan berdasarkan penghematan biaya yang didapat  dari penghematan energinya.

Berikut ini adalah gambaran konsep ESCO:

Diawalnya biaya energi tinggi digambarkan dengan balok berwarna biru disebelah kiri. kemudian dari potensi penghematan energinya jika diimplementasikan maka biaya turun menjadi warna biru kecil pada balok kedua dan ketiga. Pada balok kedua adalah kondisi . selama pembayaran dari pembiayaan alat kepada penyedia dana dibayarkan sejumlah dana dengan irisan warna hijau dan sedikit berwarna merah adalah dana sisa dari penghematan biaya yang diterima pemilik fasiltas. Terakhir  apabila pinjaman telah dilunasi maka pemilik fasilitas akan menikmati penghematan biayanya sendiri yang digambarkan dengan arsiran berwarna merah.
Bentuk kontrak pembiyaanPembiayaan dengan ESCO ini dinyatakan dengan ESPC (Energy Saving Performance Contract) dan memiliki dua pola utama, yaitu : 

A. Guranteed Saving; Pembiayaan dalam pola ini dilakukan oleh pemilik perusahaan, ESCO hanya menyediakan penjaminan teknis terjadinya penghematan biaya energi. Resiko kredit ditanggung oleh pemilik perusahaan jika sumber pembiayaannya menggunakan pihak ketiga. ESPC (Energy Saving Performance Contract) didasarkan pada baseline penggunaan energi antara sebelum dan sesudah implementasi konservasi energi. ESPC ini selanjutnya oleh pemilik perusahaan digunakan sebagai dasar dalam pembiayaan dari internal/kreditur.

B. Share Saving; Pembiayaan diperoleh dari pihak ESCO. Artinya, resiko kredit juga ditanggung oleh ESCO. Jika dalam proses pembiayaan investasi konservasi energi tersebut dilakukan pembagian resiko antara ESCO dengan kreditur atau antara ESCO dengan pemilik perusahaan, maka pembagian ini akan menjadi dasar dalam penentuan ”kepemilikan” atas arus kas baru (new cash stream) yang dihasilkan selama periode kontrak EPC.
Suatu hal yang penting bagi pemilik fasilitas untuk melaksanakan implemeentasi konservasi energi agar penghematan energinya nyata. Kondisi saat ini harga energi terus meningkat dan komponen biaya energi dalam biaya produksi pun terus menaik.  Jadi  skema ESCO bisa jadi pilihan yang menarik untuk impelementasi konservasi energi hasil dari audit energi 
Share:

Senin, 12 Oktober 2009

Green Building



Green Building

Green building atau bangunan hijau adalah bangunan yang, dalam desain, konstruksi atau operasinya, mengurangi atau menghilangkan dampak negatif, dan dapat menciptakan dampak positif, pada iklim dan lingkungan alam kita. Green Building dapat meningkatkan kualitas hidup kita dan tentunya melestarikan sumber daya alam yang terbatas dan bernilai tinggi

Dalam tahap Konstruksi green building diharapkan akan efisien dalam memanfaatkan sumber daya  alam yang terbatas seperti energi dan air untuk kehidupan penghuninya yang sehat.”

Sebuah bangunan yang disebut green building  adalah bangunan yang menggunakan sedikit air, menerapkan efisiensi energi, menghasilkan lebih sedikit limbah dan menyediakan ruang yang lebih sehat bagi penghuninya dibandingkan dengan bangunan konvensional yang pada gilirannya membantu menjaga kelestarian alam

 Prinsip Green Building

Seperti aktivitas pembangunan lainnya, banyak sumber daya diperlukan untuk konstruksi dan pemeliharaan bangunan. Optimalisasi sumber daya ini untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang yang mengarah pada perlunya konsep bangunan hijau. Green building dimaksudkan untuk mengoptimalkan air, energi, material, pembuangan limbah, lingkungan dalam ruangan yang sehat, dll. Berikut ini aspek praktis terkait

 Efisiensi Air

Air sangat berharga bagi manusia sudah tidak diragukan. Air juga  diperlukan selama konstruksi bangunan selain untuk kegiatan sehari-hari di rumah. Efisiensi pemanfaatan air diantaranya dapat dicapai dengan mendaur ulang air, pengisian air dan pemanenan air hujan.                     

Air abu-abu (dari mesin cuci, bak cuci, pancuran, baskom dan bak mandi, tetapi tidak termasuk air limbah dari dapur, toilet, urinoir atau bidet) dapat langsung digunakan untuk menyiram tanaman. Jika diolah dengan tepat, dapat digunakan secara efektif untuk pembilasan toilet dan penggunaan binatu (mesin cuci). Mengalihkan air abu-abu ke tempat tanaman yang menyukai air seperti Cana, Cyperus atau Heliconia adalah cara yang paling hemat biaya untuk menyiramnya. Tanaman bersama dengan mikroba tanah merawat pemurnian air abu-abu saat turun melalui tanah. Air yang diolah kemudian dapat dialihkan ke tangki penyimpanan dan digunakan untuk menyiram toilet dan berkebun.

 Efisiensi energi

Efisiensi energi pada bangunan hijau bertujuan untuk  merendahkan konsumsi energinya seminimal mungkin  atau dengan penggunaan sumber energi alternatif dalam proses pembangunan dan operasinya dengan menggunakan PLTS diantaranya.

Pemilihan teknologi & bahan – Teknologi yang membutuhkan infrastruktur dan mesin yang minim lebih disukai dalam desain bangunan hijau. Bangunan hijau diharapkan secara oprimal memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia secara alami/lokal. Pemanfaatan limbah industri/pertanian menggantikan produk konvensional buatan pabrik akan menambah efisiensi energi.

Dalam Fungsi bangunan, pencahayaan yang cukup dan kenyamanan termal sangat penting untuk kehidupan yang sehat dan fungsi bangunan yang lebih baik. Ventilasi yang tepat dan penyediaan taman atap mengurangi penggunaan listrik untuk sarana gedung. Sumber energi alternatif dari panel surya atau kincir angin juga dapat dimanfaatkan untuk bangunan hijau untuk mencapai efisiensi energi.

 Pengelolaan sampah

Perlindungan lingkungan adalah perhatian utama dari bangunan hijau. Prioritas harus diberikan untuk pengelolaan limbah sepanjang siklus hidup bangunan. Limbah konstruksi dan pembongkaran harus dikumpulkan dan dibuang selama setiap tahap siklus hidup gedung

Penggunaan kembali bahan limbah selama proses pembangunan menambah keberlanjutan (sustainability). Pemilahan bahan limbah dan pembuangan yang tepat adalah wajib. Limbah domestik yang mudah terurai dapat dibuang melalui instalasi biogas yang juga berfungsi sebagai sumber energi alternatif untuk memasak dan penerangan gedung.

 Peningkatan kualitas udara

Lingkungan dalam ruangan yang higienis dan sehat sangat penting untuk kesejahteraan penghuninya. Diharap digunakannya bahan bangunan, perekat, sealant, pelapis dan perabotan yang tidak mengandung, menghasilkan atau melepaskan kontaminan partikulat atau gas / senyawa organik yang mudah menguap. Sementara itu adanyataman atap akan meningkatkan kualitas udara serta kenyamanan termal di dalam gedung.

 Bangunan hijau adalah kebutuhan masa depan dan bukan kemewahan hari ini. Memenuhi kebutuhan hari ini mengutamakan kebutuhan hari esok adalah Konsep mulia pembangunan berkelanjutandan  ini dipraktikkan melalui green building.


 


Share:

Jumat, 05 Desember 2008

CONTOH AUDIT ENERGI GEDUNG



CONTOH AUDIT ENERGI GEDUNG

Audit energi dilakukan pada sebuah kompek perkantoran,  Sumber listrik di peroleh dari PLN dengan kapasitas daya tersambung di gardu utama sebesar  1,1 MVA dipakai untuk melayani seluruh gedung  di komplek.

Sumber listrik untuk Gardu utama diperoleh dari tegangan menengah 20 kV, dan didistribusikan ke  gedung-gedung melalui 6 buah gardu yaitu, gardu A, C, D, E, F dan G, dengan distribusi sistem ring melalui tegangan menengah 20 kV.  Dari gardu-gardu tersebut sumber listrik disalurkan ke gedung-gedung melalui transformator penurun tegangan dari 20 kV ke sistem tegangan rendah 220/380 volt.

Beban penguna tenaga listrik yang terpasang di gedung-gedung sebagaian besar terdiri dari lampu penerangan, AC, dan peralatan kantor seperti komputer, printer, mesin photocopy, dispenser, TV dan lain-lain. Sebagai sumber listrik cadangan menggunakan Genset.

Pada umumnya gedung-gedung didesain untuk memanfaatkan sumber energi alam.  Hal ini terlihat dari luasan jendela yang hampir 30-40% dari luas dinding, sehingga untuk sistem penerangan pada siang hari pencahayaan cukup diperoleh dari cahaya sinar matahari, sedangkan pencahayaan buatan sebagian besar menggunakan lampu TL 2 x 36 W.   

Gedung memiliki selubung bangunan jendela kaca dan dinding dari plaster. Beberapa lantai dalam ruangan memiliki peneduh dalam (venetian blind), dan jendela kaca pada dinding posisinya agak menjorok ke dalam.  Tinggi lantai ke langit-langit adalah 3,5 m.

PENGUMPULAN DATA

Data yang dikumpulkan untuk masing-masing gedung meliputi data desain dan operasi peralatan seperti kapasitas daya terpasang listrik, data teknis untuk perlengkapan pompa dan peralatan kantor, serta data operasi 12 bulan terakhir.  Selain itu, juga diteliti kondisi atau parameter-parameter khusus seperti suhu, kelembaban ruangan, dan kuat penerangan.  Pengumpulan data ini dilakukan baik dengan cara interview, pengisian kuesioner, studi literatur, dan pengamatan langsung. Secara garis besar distribusi penggunaan energi Gedung seperti terlihat di gambar.

 


Gambar Distribusi penggunaan Energi Gedung

 Kuisioner

Pengisian kuisioner dilakukan dengan counterpart yang telah ditunjuk, disusun untuk mendapatkan data teknis yang akurat dan seragam baik mengenai data desain, jumlah peralatan pengguna energi, jenis peralatan, data bangunan, data operasi peralatan maupun data penunjang lain.

Data dari kuisioner ini selanjutnya dipergunakan untuk analisa peralatan dan sebagai bahan cross check terhadap data hasil pengukuran langsung.

 Pengukuran  Besaran  Listrik

Pengukuran besaran listrik dilakukan untuk mengetahui besarnya pemakaian energi listrik dan mendapatkan pola pemakaian listrik, baik pola pemakaian listrik total maupun untuk peralatan utama.  Pengukuran mencakup hari kerja dan hari libur dengan selang waktu 30 menit.  Pengukuran besaran listrik meliputi KW, KVA dan cos phi.

Pengukuran secara langsung dengan menggunkana elektronik power meter dilakukan di dua lokasi , yaitu: yaitu di Main Panel Gedung, dan Gardu D. Pengukuran dilakukan dengan power meter ABB yang mengukur besaran kW, kwh, kVA, dan cos phi.

Selain pengukuran dengan power meter ABB juga dilakukan load survey pada gardu-gardu yang ada dan peralatan-peralatan pengguna energi listrik seperti AC.

Berikut ini gambar profile energi listrik gedung hasil pengukuran.

 

 


Gambar Profile Penggunaan Energi Listrik Dari Gedung

 

Pengukuran  Lux,  Suhu  dan  Kelembaban

Pengukuran tingkat penerangan (lux), suhu (oC)  dan kelembaban (Rh) dilakukan untuk melihat tingkat kenyamanan gedung yang diaudit.  Pengukuran ini juga untuk melihat apakah sistem penerangan dan pengkondisian udara berada di atas atau di bawah standar yang ditentukan.  Pengukuran tingkat penerangan dilakukan dengan menggunakan lux-meter sedangkan temperatur dan kelembaban dilakukan dengan menggunakan sling-meter.

Pelaksanaan pengukuran dilakukan pada setiap lantai dan ruangan dengan didampingi oleh counterpart dari pihak gedung.  Pengukuran ini dilakukan setelah pemasangan peralatan elektronik-meter, dengan terlebih dahulu mempelajari gambar yang diperoleh untuk memudahkan pelaksanaan pengukuran.

  Tabel  Data Kondisi Udara Dalam Ruangan


Intensitas daya penerangan

Sistem penerangan perkantoran gedung  dirancang untuk menggunakan sistem penerangan buatan, dengan penerangan utama menggunakan lampu TL.  Intensitas daya penerangan rata-rata yaitu mencapai 10,1 W/m2, hal ini berada dibawah batas maksimum yang ditentukan oleh standar SNI yaitu 15 W/m2.

Intensitas daya penerangan di gedung terlihat di tabel di bawah

Tabel Intensitas Penerangan gedung

 

Intensitas daya AC pada ruangan yang dikondisikan di Gedung terlihat pada tabel di bawah.

Tabel   Intensitas Daya AC Gedung Utama

 


Intensitas ini masih diatas intensitas kenyamanan berdasarkan benchmark gdeung di Jakarta  yaitu 50 W/m2

 4.3    Intensitas Energi

Intensitas energi merupakan perbandingan antara konsumsi energi listrik selama setahun dengan luas lantai yang dihuni selama satu tahun tersebut. Dari pengamatan yang dilakukan konsumsi energi listrik total untuk gedung utama mencapai 16.679 KWh/bulan, atau mencapai 200.147 KWh/tahun. Dengan luas yang terpakai/ditempati efektif mencapai 3775 m2, maka intensitas energi gedung utama adalah:

=  200.147/3.775

=  53 KWh/m2.Tahun

Dari standar intesitas energi yang dikeluarkan oleh ASEAN-USAID dimana intensitas standar untuk suatu gedung perkantoran adalah 160 kWh/m2.th, maka intensitas energi Gedung utama masih jauh lebih rendah dari standar tersebut. Rendahnya intensitas gedung ini dapat dilihat dari tingkat penyalaan penerangan yang hanya sekitar 60% , juga juga disebabkan rendahnya sistem pendinginan dimana luas lantai yang dikondisikan kira-kira hanya 34% dari luas gedung efektif.

Tingkat Kenyamanan Penerangan

Tingkat kenyamanan penerangan di gedung  pada umumnya telah mencukupi.  Tingkat kuat penerangan cukup bervariasi.  Bervariasinya tingkat penerangan ini sangat tergantung dari lokasi dekat tidaknya dari jendela, warna peralatan di sekitarnya dan lampu yang dihidupkan.

Tingkat penerangan yang jauh dari jendela atau yang mengandalkan penerangan alami rata-rata tingkat penerangannya mencapai 200-380 lux.  Pada tempat yang dekat jendela tingkat penerangan cukup tinggi yaitu mencapai 400 hingga 1000 lux, hal ini juga menunjukan bahwa pemanfaatan cahaya alami siang hari telah dimanfaatkan dengan baik.

Pada daerah tertentu, kuat penerangan masih rendah yaitu 70 sampai 170 lux, seperti di tempat-tempat tertentu di ruang monitor, ruang humas, ruang kepala kepegawaian hal ini menunjukan tingkat penerangan tersebut masih dibawah standar, yaitu 350 lux.

Dari intensitas daya penerangan terpasang sebenarnya telah mencukupi bahkan melebihi tingkat daya maksimum yang diijinkan, yaitu mencapai 16 W/m2, dari daya tersebut semestinya tingkat penerangannya mencapai 300 sampai 350 lux, akan tetapi pada praktiknya tingkat penyalaan lampu hanya sekitar 40% dari daya terpasang, dan upaya ini sebagai tindakan yang baik serbagai salah satu langkah penghematan energi listrik.

Tingkat Kenyamanan Temperatur dan Kelembaban

Temperatur pada ruang yang dikondisikan berkisar antara 24,5 sampai 30 oC, pada beberapa ruangan yang dikondisikan seperti di ruang Ka. Kepegawaian dan ruang yang memakai AC Split suhunya melebihi 27oC, biasanya hal ini disebabkan banyaknya infiltrasi di ruang tersebut.  Secara umum seting temperatur AC di set pada kondisi minimum, tetapi karena udara luar yang cukup panas (yaitu ± 33-35 oC) dan banyaknya infiltrasi menyebabkan suhu udara yang dicapai berkisar antara 26-29 oC, sehingga pada beberapa ruangan kenyamanan tidak tercapai, dimana standar kenyamanan suhu kering berdasarkan SNI yaitu 25 ± 2 oC, walaupun begitu pada beberapa ruangan kenyamanan dapat tercapai.

Pada ruang yang tidak dikondisikan biasanya digunakan fan dan mengandalkan sirkulasi udara alami dengan membuka jendela, hal ini juga membantu penerangan terutama untuk tempat yang dekat dengan jendela.

Kelembaban udara pada ruangan ber AC di Gedung utama antara
60 sampai 69%, hanya beberapa ruangan yang mempunyai kelembaban tinggi yaitu di Ruang Rapat Besar mencapai 85%.  Pada ruangan untuk kerja (kantor) rata-rata memiliki kelembaban udara relatif yang baik, yaitu  60 - 70%, dimana nilai ini masih memenuhi standar perancangan kelembaban udara (Rh) berdasarkan SNI, yaitu (60
± 10) oC

 

 

 

 

 

 


Share: