Ahli Energi - Membahas manajemen energi, Sumber energi terbarukan dan tak terbarukan , pemanfaatan energi , Pembangkit listrik tenaga surya dan isu-isu terbaru energi

MANAJEMEN ENERGI - AUDIT ENERGI - SUMBER-SUMBER ENERGI - ENERGI TERBARUKAN - ISU TERBARU ENERGI

Senin, 04 Juli 2022

Audit Energi Gedung




Definisi Audit Energi

Seperti halnya manajemen keuangan, untuk menelusuri penggunaan keuangan dan mengontrol penggunaannya yang tepat, maka digunakan audit keuangan sebagai alatnya. Dengan audit keuangan akan dapat diketahui penggunaan keuangan yang tidak tepat dan tidak benar sehingga pemborosan bisa ditekan dan bisa mengkondisikan pengelola keuangan untuk menyusun manajemen keuangan yang baik.

Demikian juga pada manajemen energi, untuk mengetahui  dan menelusuri aliran penggunaan energi digunakan audit energi sebagai alatnya. Dengan audit energi ini akan diketahui kebocoran-kebocoran penggunaan energi di gedung sehingga dapat ditentukan langkah-langkah yang tepat untuk menekan kebocoran–kebocoran tersebut dan pengelolaan energinya menjadi baik.

Pada bangunan gedung, sistem pengguna energi dapat dikelompokkan pada empat pengguna energi terbesar yaitu : Sistem AC, Sistem pencahayaan, sistem transportasi gedung dan peralatan kantor plus lainnya. Dari hasil survei sejumlah pihak (sumber Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi) persentasi penggunaan energi peralatan gedung komersial rata-rata  adalah seperti terlihat pada gambar di bawah ini ;


Gambar Persentase penggunana energi di gedung

Sumber : kemetrian ESDM

Dari gambar terlihat bahwa sistem AC menggunakan energi terbesar sekitar 60 % dari energi gedung dan diikuti oleh pencahayaan sekitar 20 %. Apakah implikasinya? Implikasinya adalah bahwa fokus kegiatan konservasi energi ini harus diarahkan terutama ke sistem AC dan kemudian pencahayaannya karena penghematan dikedua sistem ini akan memberikan hasil yang signifikan dalam program penghematan gedung.

Ada perbedaan hasil yang signifikan dalam melaksanakan konservasi energi di bangunan sebelum dan sesudah pembangunan gedung tersebut. Pembangunan suatu gedung komersial yang direncanakan secara matang untuk memenuhi kaidah-kaidah konservasi energi akan memberikan banyak keuntungan dan manfaat bagi pemilik dan pemakai gedung tersebut. Dengan perencanaan awal yang matang dan menyeluruh serta memenuhi kaidah-kaidah hemat energi tanpa mengorbankan kenyamanan pemakaian gedung seperti kenyamanan termal dan visual maka pemakaian energi gedung akan lebih rendah dibandingkan dengan tanpa perencanaan konservasi energi. Dengan rendahnya pemakaian energi gedung akan memberikan manfaat untuk pemilik gedung karena dapat menggunakan bangunan secara terus menerus karena biaya operasionalnya yang lebih rendah. Biaya operasional yang rendah untuk gedung komersial selanjutnya akan membuat harga sewa gedung menjadi lebih rendah sehingga mendorong para penyewa tetap bertahan di bangunan tersebut.

Dari berbagai kegiatan audit yang telah dilakukan ditemukan bahwa banyak sistem AC gedung terpasang oversize dari yang dibutuhkan dan bisa sampai dua kali lipat dari kebutuhannya. Ini mengandung arti dalam perencanaan awalnya tidak memasukkan aspek konservasi energi sehingga konsumsi energi listrik dari sistem AC sangat tinggi dan mempengaruhi biaya operasional gedungnya, sementara itu modifikasi sistem AC existing tidaklah merupakan hal yang mudah untuk dilakukan, jadi gedung akan cenderung terus dengan kondisi operasional penggunaan listrik yang tinggi sebagai akibat perencanaan awal yang tidak melibatkan aspek konservasi energi.

Konservasi energi adalah salah satu bentuk pengelolaan energi yang benar dan efisien yang sebaiknya dimasukkan sebagai salah satu aspek dalam perencanaan pembangunan gedung. Namun walaupun begitu Konservasi energi masih tetap bisa dilakukan setelah gedung dibangun. Alat utama untuk kegiatan konservasi energi pada bangunan gedung yang telah berdiri adalah audit energi.

Selain itu dengan adanya audit energi pelaksanaan efisiensi energi dapat dilaksanakan selama operasional gedung sehingga gedung yang melaksanakan efisiensi energi disemua aspek operasional gedung akan mendapatkan nilai tambah dari biaya operasi gedung yang murah sehingga nilai jual dan sewa gedung menjadi tinggi.

Kapan Audit energi diperlukan

Audit energi adalah kegiatan untuk mengetahui pola pemakaian energi dari peralatan pengguna energi yang ada di gedung. Pola pemakaian energi ini diamati pada peralatan-peralatan utama pengguna energi seperti AC, lift, Pencahayaan, boiler dan motor-motor. Dengan didapatkannya pola pemakaian energi maka langkah-langkah untuk melakukan efisiensi dan pengelolaan energi di gedung menjadi lebih terarah.  Untuk menetapkan tingkat efisiensi peralatan penggguna energi yang ada di gedung dilakukan perbandingan hasil pengamatan dan pengukuran dengan acuan standar yang berlaku seperti SNI dan lainnya.

Audit energi : ” Kegiatan untuk mengidentifikasi dimana dan berapa energi yang digunakan serta berapa potensi penghematan yang mungkin diperoleh dalam upaya mengoptimalkan penggunaan energi pada fasilitas unit/sistem gedung”.

Tujuan audit energi : ” Adalah untuk menentukan cara yang terbaik untuk mengurangi penggunaan energi per satuan output dan mengurangi biaya operasi gedung ”

Suatu kegiatan audit energi adalah merupakan alat untuk mendukung program konservasi energi disuatu fasilitas pengguna energi. istilah konservasi energi ini harus dibedakan dengan penghematan energi. Konsep yang berlaku dari konservasi energi ini adalah suatu kegiatan untuk mendukung pemakaian energi yang tepat dan efisien pada suatu fasilitas pengguna energi tanpa mengurangi produktifitas atau kenyamanannya. Untuk mencapai ini diperlukan batasan-batasan standar yang harus ditaati. Dengan adanya batasan ini maka penghematan energi tidak akan dilakukan secara semena-mena sehingga merugikan pengguna, sebagai contoh ada persepsi yang salah menghemat energi lampu pada ruangan kantor adalah dengan mematikan begitu saja sejumlah lampu pada ruangan itu, sehingga mengakibatkan sulitnya kegiatan membaca dan aktifitas lainnya. Yang benar mematikan lampu pada ruangan kantor dibatasi oleh tingkat terang minimal (lux) yang harus dipenuhi agar sesuai dengan peruntukkannya. Sebagai contoh dalam ruangan tingkat minimal tingkat terang adalah 350 lux, kemudian setelah diukur dengan alat ukur pencahayaan tingkat terangnya menunjukkan 400 lux, maka pada ruangan  tersebut dapat dilakukan pemadaman sejumlah lampu sehingga rata-rata tingkat terangnya turun menjadi 350 lux.

Uraian diatas akan mengarah kepada pertanyaan kapan suatu fasilitas pengguna energi (gedung atau lainnya) perlu melakukan audit energi.

Sesungguhnya kita tidak secara mudah bisa mengatakan suatu fasilitas pengguna energi itu boros dalam penggunaan energinya, yang paling mungkin kita menduga bahwa suatu fasilitas pengguna energi berindikasi boros energinya. Tapi sebaiknya  suatu fasilitas pengguna energi baik gedung ataupun lainnya perlu diaudit penggunaan energinya ada ataupun tidak indikasi penggunaan energi yang boros.

Gambar berikut memperlihatkan Skema kerja audit energi disuatu fasilitas pengguna energi.

Gambar memperlihatkan bahwa sesungguhnya audit energi itu merupakan suatu bagian dari siklus kegiatan konservasi energi yang dilakukan pada suatu fasilitas pengguna energi untuk tetap menjaga penggunaan energinya yang efisien



Skema kerja audit energi disuatu fasilitas pengguna energi

Dalam gambar terlihat bahwa audit energi dimaksudkan untuk mendapatkan peluang-peluang penghematan energi dari suatu fasilitas pengguna energi. Sehingga bisa dibuat sejumlah rekomendasi-rekomendasi program konservasi energi. Rekomendasi-rekomendasi ini dari sisi pembiayaannya dapat dipilah pada tiga kategori yaitu No/low cost, medium cost, dan high cost. Kategori ini relatif sifatnya untuk masing-masing gedung karena tergantung aset serta modal yang dimiliki oleh pemilik gedung. Rekomendasi yang bersifat medium dan high cost masih memerlukan adanya studi kelayakan agar dapat diimplementasikan sehingga memberikan penghematan energi yang nyata.

Hasil implementasi rekomendasi konservasi energi baik yang low cost, Medium cost ataupun yang high cost selanjutnya dimonitoring selama periode tertentu dan dikaji keberhasilannya dibandingkan dengan kondisi sebelum pelaksanaan implementasi konservasi energi.

Kegiatan konservasi energi akan diulangi pada periode berikutnya yang akan ditentukan oleh pemilik fasilitas dan semuanya itu akan dimulai lagi dengan audit energi. Periode siklus kegiatan konervasi energi ditetapkan oleh masing-masing pemilik fasilitas, minimal dalam satu tahun siklus konservasi energi ini diulangi.

Berikut adalah Langkah-langkah kegiatan audit energi yang dilakukan di gedung, yaitu:

  1. Melakukan pengukuran pada sistem kelistrikan dengan mengamati, kualitas kelistrikan a.l. : faktor daya, daya listrik, energi, harmonik dll.
  2. Melakukan pengukuran pada sistem Pengkondisi udara gedung mencakup : pemakaian daya dan energi listriknya, pola pemakaian sistem AC,  tingkat kenyamanan serta diamati juga kondisi disainnya.
  3. Melakukan  pengukuran dan pengamatan pada sistem pencahayaan gedung, kegiatan ini mencakup : pengamatan kondisi tingkat terang, daya terpasang pencahayaan serta pemakaian sistem pencahayaan yang hemat energi
  4. Melakukan Pengamatan pada selubung bangunan gedung, kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan selubung gedung dalam menghambat laju aliran panas dari luar gedung.
  5. Melakukan pengukuran dan pengamatan pada peralatan lainnya pendukung aktifitas gedung seperti : lift, escalator, boiler, STP, pompa dll.

Langkah-langkah audit energi ini selanjutnya akan diikuti analis dan evaluasi kondisi real untuk membuat rekomendasi konservasi energi yang akan diimplementasikan untuk mendapatkan penghematan energi yang nyata.

Seperti juga halnya audit keuangan, audit energi merupakan suatu penelusuran atas sumber daya energi dari mulai masuknya sampai ke pengguna akhir untuk mencari kebocoran kebocoran serta membuat rekomendasi yang akan memperbaiki sistem pemanfaatan energi dari suatu fasilitas (gedung atau pabrik). Dapat dikatakan audit energi ini dilakukan hanya untuk gedung yang sudah berdiri (existing) bukan untuk gedung yang baru dalam rencana. Namun demikian kaidah-kaidah dan batasan-batasan konservasi energi dalam audit energi bisa dipakai untuk perencanaan awal gedung yang akan dibangun.

kegiatan audit energi pada bangunan gedung harus melihat aspek-aspek yang terkait dengan gedung yaitu :

·        Sistem kelistrikan Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Tata Udara Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Tata Cahaya Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Selubung Bangunan Gedung Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Pompa dan Perpompaan Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Peralatan lain (lift escalator dan boiler) Pada Bangunan Gedung

·        Sistem otomasi terintegrasi gedung (BAS) Pada Bangunan Gedung

Audit energi adalah alat, jadi bukan hasil kerja atau bukti keberhasilan konservasi energi di gedung. Hal-hal yang menjadi faktor keberhasilan kegiatan konservasi energi di gedung adalah pemilihan teknologi yang tepat serta kreatifitas untuk membuat disain atau modifikasi sistem menjadi lebih efektif dalam menghemat energi serta tentunya pengalaman yang baik.

 1.  Sistem kelistrikan gedung

Sumber utama energi untuk operasional gedung saat ini adalah dari listrik. Listrik ini bisa disuplai dari PLN atupun dari genset atau gas engine milik sendiri. Akan lebih baik jika dalam perencanaan awal  sudah dilibatkan aspek konservasi energi dalam pembuatan sistem kelistrikan gedung. Aspek konservasi energi dari sistem kelistrikan gedung adalah terbaginya  beban secara merata pada masing-masing fasa, telah terpisahnya masing-masing beban seperti AC, penerangan dan lift pada saluran kabel yang tersendiri. Telah adanya alat pengukur konsumsi energi lisitrik  pada masing-masing sistem pengguna energi sehingga pemakaian energinya dapat dimonitor. Monitoring dilakukan untuk menilai keberhasilan sejumlah langkah konservasi energi yang bisa dilakukan pada sistem-sistem pengguna energi tadi.

Selain itu dengan telah terpisahnya beban listrik sistem pengguna energi pada saluran kabel yang berbeda akan memudahkan kontrol operasi sistem tadi apalagi jika gedung menggunakan sistem otomasi terintegrasi  (Building Automation System/BAS).

Pemasangan  kapasitor bank pada jaringan listrik diawal pembangunan  juga akan meningkatkan efisiensi penggunan listrik sistem kelistrikan gedung. Jika hal itu tidak dilakukan, minimal ada alokasi tempat yang tepat di panel induk untuk pemasangan kapasitor bank ini dikemudian hari,

Pemilihan genset yang efisien dalam mengkonsumsi bahan bakar juga diperlukan seandainya genset diperlukan untuk mengganti suplai listrik dari PLN saat beban puncak. Genset juga layak  digunakan saat dimana harga energi alternatif pengganti solar yaitu BBN biosolar harganya cukup murah dan ekonomis.

2.  Sistem Tataudara pada bangunan gedung

Pada bangunan gedung sistem tataudara menjadi komponen utama yang paling besar penggunaan energinya yaitu sekitar 60 persen. Penggunaan yang sangat besar ini perlu menjadikan sistem AC sebagai fokus utama dalam kegiatan penghematan energi di gedung. Sistem AC gedung pada umumnya dapat dibagi dua bagian utama yaitu sistem refrigerasi yang merupakan penggerak utama pengkondisian udara dan sistem tataudara. Sistem refrigerasi ini terdiri atas kompresor, evaporator, kondenser dan katup ekspansi. Pada umumnya sistem refrigerasi ini menggunakan refrigerant (freon) yang saat ini masih banyak menggunakan refrigerant yang menyebabkan kerusakan ozone serta menimbulkan pemanasan global. Sementara sistem tataudara mengalirkan udara pada duct setelah didinginkan oleh sistem refrigerasi tadi. Sistem tataudara terdiri atas duct aliran udara, kipas pengalir udara suplai dan diffuser pendistribusi udara dingin.

Parameter tingkat hemat sistem AC gedung ditandai dengan efisiensi sistem refrigerasinya dan pencapaian kenyamanan ruangan sesuai standar kenyamanan orang Indonesia. Tingkat efisiensi sistem AC diukur dengan kemampuan pengambilan panas gedung dibandingkan dengan energi listrik yang dikonsumsi. Angka acuan efisiensi sistem refrigerasi gedung menurut SNI tahun 1993 yang dikeluarkan oleh Puslitbang pemukinan Departemen Pekerjaan Umum adalah maksimum kw/TR sebesar 0,9. Angka ini menunjukkan bahwa sistem refrigerasi maksimum menkonsumsi listrik 0,9 kW untuk menghasilkan kemampuan mengambil panas gedung sebesar 1 Ton Refrigerasi atau 12.000 Btu/hr atau 3024 kcal/jam. Sementara tingkat kenyamanan dalam ruangan dimana sistem AC-nya  beroperasi pada kondisi efisien energi adalah pada suhu 25 + 2 oC  dan kelembaban udara relatif sebesar  60 +10 %

Ada berbagai macam sistem refrigerasi yang dapat dipilih untuk kondisi gedung tertentu seperti sistem chiller water cooler, chiller air cooler, sistem package  atau kombinasinya. Sementara pada sistem distribusi udara bisa menggunakan sistem seperti AHU dengan chilled water atau refrigerant atau juga menggunakan fan coil sistem untuk mengalirkan udara dingin ke ruangan-ruangan yang dilayani oleh sistem AC.

Pemilihan sistem refrigerasi dan distribusi udara ditentukan oleh banyak faktor terutama adalah kondisi dan lokasi penempatan dari sistem AC di gedung serta anggaran yang dimiliki oleh pemilik gedung. Selain itu yang terutama adalah bahwa sistem AC yang didisain kapasitasnya sesuai dengan beban panas yang harus diatasi oleh system AC.

Program konservasi energi pada sistem AC lebih baik dilakukan pada saat awal perencanaan bangunan dibandingkan dengan setelah bangunan itu berdiri karena modifikasi sistem yang telah ada akan lebih menyulitkan dan akan mempengaruhi bagian-bagian lain karena semua sistem telah dihitung secara terintegrasi dari awalnya.

Perencanaan awal dalam penentuan jenis sistem AC yang dipilih serta peralatan yang diadakan sangat menentukan dalam pencapaian tujuan konservasi energi pada sistem AC gedung.

3. Sistem tatacahaya pada bangunan gedung

Pada bangunan gedung sistem tatacahaya menempati urutan kedua dalam mengkonsumsi energi listrik. Pada bangunan gedung pencahayaan digunakan untuk area publik seperti ruangan kantor, lorong-lorong dan lobby sehingga  pencahayaannya lebih terdistribusi.

Perencanaan pencahaayan gedung yang hemat energi akan lebih baik dilakukan sebelum bangunan berdiri karena sifatnya yang terdistribusi sehingga mempengaruhi  area yang luas. Perubahan sistim pencahayaan atau retrofitting setelah bangunan berdiri akan memberatkan biaya perubahan langit-langit dari ruangan yang diperbaiki.

Untuk mendapatkan pencahayaan dalam ruangan yang optimal diperlukan pemilihan jenis lampu yang hemat energi sesuai dengan peruntukkan ruangan serta pemilihan armatur yang efektif dalam merefleksikan  cahaya ke bawah.

Penentuan jenis warna dinding serta tinggi letak dari armatur sangat menentukan tingkat pencahayaan yang sampai ke bidang yang akan diterangi. Tingkat terang yang ingin dicapai akan menentukan berapa banyak jumlah lampu dan daya masing-masing lampu yang diperlukan.

Pencahayaan ruangan yang hemat energi ditentukan juga  oleh efisiensi lampu yang ditandai dengan parameter lumen per watt yang menunjukkan jumlah berkas cahaya yang dihasilkan untuk tiap 1 watt daya listrik yang dikonsumsi.

Untuk penerangan publik yang menggunakan jenis lampu fluorescent, penggunaan ballast elektronik akan lebih mengurangi daya listrik yang dibutuhkan untuk pencahayaan dalam ruangan.

Indonesia adalah negara tropis yang dianugrahi cahaya matahari yang melimpah sepanjang tahun. Sumber cahaya yang gratis dan murah ini tidak secara optimal dimanfaatkan sebagai sumber cahaya penerangan alami siang hari. Ada kekhawatiran bahwa penggunaan cahaya alami ini akan menambah beban AC gedung. Sebenarnya hal itu tidak beralasan selama cahaya alami yang dimanfaatkan itu adalah cahaya pantulan dan bukan cahaya langsung. Cahaya pantulan memiliki panjang gelombang yang tinggi sementara cahaya langsung masih mengandung spektrum yang memiliki panjang gelombang rendah. Spektrum dengan panjang gelombang rendah ini akan menimbukan efek rumah kaca sementara cahaya pantulan tidak menimbulkan efek rumah kaca dan beban pendinginan AC yang terjadi tetap rendah.

4. Sistem selubung bangunan

Selubung bangunan adalah bagian terluar dari gedung yang melingkupi seluruh konstruksi bangunan dalam menghambat aliran panas dari lingkungan luar. Yang menjadi komponen selubung bangunan ini adalah dinding beserta jendela kaca dan pintu serta selubung atap.

Luasan dan jenis selubung bangunan (dinding dan atap) mempengaruhi perolehan kalor/panas (heat gain) akibat konduksi panas dari luar dan panas dari radiasi matahari. Untuk mengurangi perolehan panas yang berarti pula menurunkan beban pendinginan sistem AC, maka pemilihan dinding luar, kaca, atap dan kombinasi luasan dinding dengan kacanya akan menjadi penentu efektifitas selubung bangunan dalam menghambat aliran panas dari luar.  Sistem AC di gedung  mendapatkan beban panas terbesarnya melalui  selubung bangunan, karena itu perhatian terhadap selubung bangunan ini harus yang paling mendalam.

Disain selubung gedung yang terlalu banyak melibatkan jendela kaca akan menyebabkan beban pendinginan AC yang besar sehingga akan membuat konsumsi listik untuk AC menjadi besar. Diperlukan suatu kombinasi antara dinding keras (tembok) dan kaca  dari selubung bangunan gedung yang optimal serta penggunaan peneduh dan vegetasi yang baik diluar gedung agar beban listrik untuk AC rendah.

Sebagai tolok ukur tingkat efektiftas selubung bangunan ini dalam mengatasi beban AC telah ditetapkan  untuk kondisi Indonesia ukuran RTTV (Roof Thermal Transfer Value) untuk selubung atap dan OTTV (Overall Thermal Transfer Value) untuk selubung dinding. Nilai maksimum yang diperbolehkan untuk kedua parameter ini adalah (berdasarkan SNI No SNI 03-6389-2000), yaitu

Nilai RTTV gedung maksimum adalah  = 45 watt/m2

Nilai OTTV gedung maksimum adalah = 45 watt/m2

Nilai 45 watt/m2  artinya adalah jumlah panas mengalir (dinyatakan dalam watt) melewati satu satuan meterpersegi selubung bangunan maksimum sebesar 45 watt. Jika lebih besar berarti suatu gedung tidak efisien, jika lebih kecil berarti sudah efisien

5. Sistem Pompa dan perpompaan

Dipastikan bahwa semua bangunan gedung memiliki pompa dan sistem perpompaannya yang terutama digunakan untuk mengalirkan air bersih. Secara umum system pompa menggunakan energi listrik cukup kecil tapi penghematan energi di pompa ini tetap diperlukan apalagi dengan system pompa yang efisien maka konservasi air juga bisa dilaksanakan.

6. Sistem Peralatan lain (lift escalator dan boiler)

Saat ini gedung komersial khususnya yang berada di kota besar tidak terhindarkan untuk menggunakan transportasi vertical. Hal ini terutama disebabkan keterbatasan lahan yang menyebabkan pembangunan gedung mengarah ke atas.

Perencanaan awal transportasi vertical yang efisien energinya ditentukan oleh faktor-faktor seperti peruntukan gedung, laju perkiraan jumlah orang dan pemilihan teknologi sistem transportasi verticalnya. Sistem transportasi vertical yang modern dan dapat diprogram ulang adalah sistem yang akan lebih mendukung program konservasi energi dalam gedung baik dalam perencanaan awal maupun retrofit dikemudian hari.

Selain lift beberapa gedung juga memiliki peralatan escalator atau tangga berjalan. Pada umumnya perkantoran tidak memiliki escalator dan biasanya banyak dipergunakan di Mall dan pusat perbelanjaan.

Selain itu beberapa bangunan pada umunya hotel dan rumah sakit memiliki juga peralatan boiler yaitu untuk menghasilkan uap air atau air panas untuk mandi serta laundry atau memasak terutama di hotel.

7.  Sistem Otomasi Terintegrasi Gedung (BAS)

Dengan kemajuan teknologi komputer dan informasi maka untuk meningkatkan performa operasi sistem-sistem pengguna energi saat ini telah digunakan building otomation system (BAS). Penggunaan BAS ini juga  dapat mengintegrasikan kerja sistem tadi. Pada operasional sistem AC penggunaan BAS akan dapat mengatur jam nyala dari sistem chiller dan AHU serta mengatur jumlah chiller yang nyala. Sementara pada lampu BAS ini akan dapat mengatur jam nyala dari lampu dan juga mengatur jumlah lampu yang nyala disesuaikan dengan pencahayaan alami siang hari yang masuk. Pengaturan lampu dan sistem AC tadi hanya dapat dilakukan oleh BAS dengan syarat bahwa jaringan kabel listriknya telah terpisah untuk masing-masing sistem.  Sementara itu pada lift penggunaan BAS dapat mengatur jumlah lift nyala sesuai jam yang telah ditetapkan.

Penggunaan sistem BAS ini sudah tentu akan dapat mendukung program penggunaan energi listrik yang efisien pada bangunan gedung dengan syarat bahwa sistem kelistrikan dan semua sistem pengguna energi tadi direncanakan secara terintegrasi dan dipersiapkan dari awal untuk dikontrol oleh BAS. Pemasangan BAS setelah gedung berdiri cenderung sulit dilakukan karena harus membongkar sejumlah dinding serta perlu mengurut alur-alur listrik dan memasang kabel-kabel control melewati tempat-tempat yang sulit.


Share:

0 comments: