Energy, Economy and the Environment Discussion - Discussing energy management, renewable and non-renewable energy sources, the latest economy issues related to energy, the environment, and climate change.

ENERGY MANAGEMENT - ENERGY SOURCES - RENEWABLE ENERGY - ENERGY ECONOMICS - LATEST ENERGY ISSUE -ENVIRONMENT

Audit Energi Gedung

Kegiatan untuk mengidentifikasi dimana dan berapa energi yang digunakan serta berapa potensi penghematan yang mungkin diperoleh dalam upaya mengoptimalkan penggunaan energi pada fasilitas atau sistem gedung

Energi Terbarukan Dan Konservasi Energi

Energi terbarukan tersedia melimpah di alam penggunaannya ketersediaannya tidak pernah habis dan tidak merusak lingkungan - Konservasi energi adalah melestarikan energi dengan penggunaan yang efisien dan bijaksana

Manajemen Energi

Manajemen energi adalah pengelolaan energi secara komprehensip secara nasional dan lokal dengan mengikuti kaidah-kaidah manajemen untuk mencapai kemakmuran bersama

Efisiensi di Industri

Industri yang menerapkan sistem manajemen energi dan melakukan program efisiensi energi akan memiliki daya saing yang tinggi karena biaya energinya lebih rendah

Kebijakan Energi Nasional

Kebijakan energi Nasional (KEN) yang menerapkan sistem manajemen energi yang benar, Menerapkan prinsip berkeadilan keberlanjutan dan berwawasan lingkungan, memperhatikan kaidah-kaidah efisiensi energi dan menggunakan energi secara bijaksana akan memberikan kemakmuran bagi rakyat

Kamis, 07 Juli 2022

Manajemen Energi

Manejemen adalah Suatu proses kegiatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan yang merupakan  usaha-usaha para anggota organisasi agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Sementara itu manajemen energi adalah kegiatan di suatu perusahaan yang terorganisir dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen, dengan tujuan agar dapat dilakukan konservasi energi,  sehingga biaya energi sebagai salah satu komponen biaya produksi/operasi dapat ditekan serendah-rendahnya. Konservasi energi sendiri mengandung arti sebagai suatu usaha untuk tetap menggunakan energi secara rasional tapi tetap mempertahankan produktifitas dan terpenuhinya syarat-syarat kelola perusahaan. Penggunaan energi rasional diantaranya dengan penghematan dan efisiensi energi. Jadi harus dibedakan antara penghematan energi dengan konservasi energi. Penghemata energi bisa saja dilakukan dengan hanya mengurangi penggunaan energinya tapi kenyamanan dan produktitas menjadi turun. Sementara konservasi energi adalah penerapan kaidah-kaidah dalam pengelolaan energi tidak hanya mengurangi pemakaian energinya tapi juga menerapkan pola operasi yang efisien, pemasangan alat tambahan yang meningkatkan performa sistem sehingga pemakaian energinya lebih rendah tapi tidak mengurangi kenyamanan dan produktifitas. Jadi pada intinya konservasi energi merupakan panduan bagaimana menghemat energi dengan benar dan berisi metode-metode dan alat alat yang bisa dipakai untuk penghematan energi tanpa mengurangi produktifitas dan kenyamanan. Sementara efisiensi energi artinya perbandingan antara penggunaan energi  dengan hasil produksinya. Yang dimaksud produksinya bisa kenyamanan, gerak dan lain-lain. Jadi efisiensi energi yang tinggi berarti pemakaian energinya rendah tapi produksi  tinggi. Dengan demikian konsep konservasi energi lebih luas dibandingkan dengan efisiensi energi.

Saat ini   International Standard Organization telah  ter-update pada ISO 50001 ( tahun 2018). Standar ISO tentang manajemen energi. System manajemen energi ini juga sesungguhnya tidak berdiri sendiri karena merupakan penggabungan dan harmonisasi dari sistem manajemen energi yang sudah diterapkan beberapa negara serta kawasan seperti Uni Eropa.  Status saat ini  beberapa Negara seperti Denmark, Ireland, Sweden, US, Thailand, Korea telah memiliki national energy management standards sendiri . Sementara Uni Eropa bahkan sudah punya regional energy management standard yang sudah dipergunakan. Berkaitan dengan hal itu maka organisasi internasional tentang standar (ISO) dengan arahan dari the United Nations Industrial Development Organization (UNIDO)  sudah melakukan peluncuran ISO 50001 tentang Manajemen Energi sejak tahun 2011.

Standar manajemen energi ISO 50001 dimaksudkan untuk memberikan kerangka kerja bagi perusahaan dalam mengintegrasikan efisiensi energi di perusahaannya ke dalam manajemen praktis dari perusahaan. Dalam hal ini ISO  berusaha menjadikan standar  Manajemen Energi agar dapat :

  • Memandu perusahaan dalam menggunakan energi lebih baik
  • Sebagai panduan dalam benchmarking, pengukuran, dokumentasi, laporan intensitas energi dan manfaat implementasi proyek energi untuk mengurangi dampak emisi rumah kaca (Green House Gas/GHG emissions)
  • Membentuk komunikasi yang terbuka antar lintas divisi dalam pengelolaan energi
  • Mempromosikan kasus-kasus sukses dalam pengelolaan energi dan mendorong perilaku pengelolaan energi yang baik
  •  Memandu perusahaan melakukan evaluasi dan implementasi  teknologi baru dalam efisiensi energi.
  • Menyediakan kerangka kerja untuk mempromosikan  efisiensi energi pada seluruh jalur pemanfaatan yang ada diperusahaan
  • Menfasilitasi peningkatan pengelolaan energi kaitannya dengan GHG emission reduction projects.

Konsep manajemen energi dari ISO ini mengadopsi siklus manajemen dari  Deming Cycle (yang dipromosikan oleh  Dr W. Edwards Deming di tahun 50-an). Tahapan penting dalam siklus manajemen ini adalah Plan-Do-Check_Action (PDCA cycle) seperti terlihat pada gambar berikut:


Gambar Konsep siklus manajemen energi

Disadur Dari ANSI/IS0 50001

Terlihat dalam siklus tersebut adanya dua lapis pelaksana yaitu lapis manajerial dan teknikal. Pada lapis manajerial aktifitasnya lebih bersifat deskjob sementara lapis teknikal lebih banyak bersifat lapangan. Dalam pelaksanaan manajemen energi ini organisasi pelaksanaan bukan merupakan suatu organisasi tetap, tapi merupakan suatu task force (gugus tugas yang terdiri dari berbagai divisi) baik keuangan, elektrikal – mekanikal dan sipil. Karena beragamnya divisi yang terlibat di dalamnya maka harus ada komitmen khusus dari top manajemen untuk melaksanakan manajemen energi ini. Dengan adanya komitmen manajemen puncak maka setiap divisi akan dapat menetapkan wakil-wakilnya dalam tim gugus tugas itu. Tim yang ditunjuk akan bertugas melaksanakan manajemen energi disamping tugas rutinnya dalam organisasi yang telah ada. Dapat dikatakan bahwa organisasi manajemen energi ini merupakan organisasi yang lintas divisi karena energi dalam gedung berkaitan dengan semua aspek, baik listrik, mekanikal, sipil dan purchasing (keuangan). Tim teknikal memiliki tujuan  meningkatkan system performance, sementara pada level manejerial tujuan akhir siklus adalah review yang menunjukkan bahwa target awal yang telah direncanakan telah dicapai atau dilampaui.

Ada beberapa pendekatan dalam Manajemen Energi yang harus dilakukan apabila suatu perusahaan akan menerapkannya pada pengelolaan energinya, namun dua unsur yang paling penting adalah :

1)  Manajemen puncak harus secara penuh memberikan komitmen terhadap pengendalian biaya energi.

2)   Harus dibentuk organisasi yang sesuai, untuk mengimplementasikan serta bertanggung jawab terhadap program Manajemen Energi.


Pendekatan secara menyeluruh dilukiskan seperti pada Gambar. 2. Gambar ini merupakan penjabaran dari konsep ISO tentang manajemen energi yang seperti terlihat pada gambar 1, dimana terlihat beberapa elemen yang membentuk suatu program manajemen yang terpadu untuk satu perusahaan (gedung atau lainnya).   Elemen-elemen utama akan dibicarakan pada uraian berikut pada buku ini.

Gambar Pelaksanaan manajemen Energi

1.1.1   Komitmen Manajemen Puncak

Keputusan manajemen perusahaan untuk melakukan pengendalian terhadap biaya energi merupakan langkah pertama yang penting.   Hal ini harus dinyatakan secara jelas dan harus diinformasikan serta dimengerti oleh semua karyawan perusahaan.

Manajemen senior harus berpartisipasi dalam rapat-rapat Komite Energi atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan energi.   Direktur perusahaan mungkin perlu mempunyai seorang Manajer Energi yang melapor langsung kepadanya, terutama pada awal dimulainya program Manajemen Energi.

Seringkali akan bermanfaat bagi perusahaan, mempublikasikan pernyataan resmi tentang kebijaksanaan energi yang ditempuhnya.   Hal ini akan bermanfaat pula untuk menentukan kegiatan perusahaan di bidang energi bagi para karyawan serta untuk memberikan informasi kepada khalayak umum tentang komitmen perusahaan terhadap efisiensi energi.

Akhirnya, bagian penting dari komitmen manejemen puncak adalah penunjukan organisasi yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program Manajemen Energi.  Pada umumnya, organisasi ini terdiri dari dua tingkatan, yakni Manajer Energi dan Komite Energi.  Adanya komitmen manajemen puncak akan terbukti pada besar atau tidaknya dukungan yang diberikan kepada Manajer Energi dan Komite Energi, khususnya sumber daya manusia yang diserahi kewenangan.

Komite Energi

Karena energi menyangkut berbagai departemen/unit kegiatan perusahaan, program Manajemen Energi yang efektif harus melibatkan sejumlah personel.   Suatu Komite Energi perlu dibentuk untuk mengkoordinasikan semua departemen tersebut, tapi tetap berusaha menghindarkan  birokrasi yang tidak perlu.

Adanya Komite Energi yang aktif akan mendatangkan keuntungan keuntungan sebagai berikut:

- Dapat mendorong kelancaran berkomunikasi dan tukar menukar gagasan antar berbagai departemen yang terlibat dalam perusahaan.

- Dapat memudahkan dicapainya persetujuan bagi proyek konservasi energi yang mempunyai pengaruh terhadap lebih dari satu departemen .

- Dapat menyampaikan suara yang lebih kuat untuk meyakinkan manajemen puncak dari pada hanya disampaikan oleh seorang manajer.

Komposisi Komite Energi akan bervariasi pada setiap perusahaan, bergantung pada struktur manajemen yang ada, jenis dan jumlah pemakaian energi serta faktor-faktor spesifik lainnya pada perusahaan tersebut.  Contoh tipikal susunan Komite Energi seperti terlihat pada Gambar berikut ini.

Gambar Komite Energi

Kapan dan seberapa sering Komite Energi harus mengadakan pertemuan ?   Hal ini bergantung pada seberapa pentingnya biaya energi terhadap struktur biaya produksi (operasi gedung)  serta biaya keseluruhan pada perusahaan tersebut dan kemajuan proyek-proyek (yang berkaitan dengan energi) yang sedang berjalan.   Pada umumnya pertemuan diadakan sebulan sekali, sehingga Komite dapat mempelajari dan membahas jumlah produksi dan konsumsi energi setiap bulan secara teratur.   Pembahasan ini menyangkut perbandingan antara performance sebenarnya terhadap sasaran dan anggaran yang ditentukan, demikian pula perbandingan terhadap kondisi bulan sebelumnya.   Hal-hal lain yang perlu dibahas juga adalah status investasi di bidang konservasi energi yang sedang berjalan maupun dalam perencanaan.

1.1.3  Manajer Energi

Dengan membentuk suatu Komite Energi saja tidaklah cukup.   Maka diperlukan seseorang untuk melaksanakan kebijakan dan arahan-arahan yang dibuat oleh Komite, serta menyediakan data yang dibutuhkan oleh Komite untuk membuat keputusan. Dengan demikian penunjukan seorang Manajer Energi merupakan tahapan penting dalam memulai suatu program Manajemen Energi yang efektif pada setiap perusahaan.

Peranan Manajer Energi akan bervariasi di setiap perusahaan, namun demikian biasanya seorang Manajer Energi terkait dengan tugas-tugas sebagai berikut :

-       Pengumpulan dan analisa data yang berkaitan dengan energi secara teratur.

-       Pemantauan pembelian energi.

-       Identifikasi peluang-peluang penghematan energi.

-     Pengembangan proyek-proyek penghematan energi, termasuk evaluasi teknis dan ekonomis yang diperlukan.

-       implementasi  proyek-proyek penghematan energi

-       Pemeliharaan komunikasi antar karyawan serta hubungan masyarakat.

Secara umum, seorang Manajer Energi harus ikut serta dalam menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan pembelian energi, distribusi energi dan pemanfaatan energi dalam suatu gedung atau perusahaan.

Pada beberapa perusahaan, khususnya perusahaan yang lebih kecil, Manajer Energi dapat melapor langsung kepada Manajer Umum atau pimpinan, sehingga tidak perlu adanya Komite.   Dengan seorang Manajer Energi yang dapat bekerja secara efektif dengan semua departemen dan yang berkemauan keras atau "self motivated", maka program akan dapat berjalan dengan baik.  Pada perusahaan yang sangat kecil, dapat saja Manajer Energi dijabat oleh seorang staf yang bekerja secara part-time.   Untuk perusahaan yang lebih besar mungkin dapat menunjuk seorang Manajer Energi yang bekerja secara full-time dan dilengkapi dengan beberapa pembantu atau asisten di bidang teknis, sehingga terbentuk suatu "Group Konservasi Energi".

Bila memungkinkan, Manajer Energi maupun group harus bebas/tidak bergantung pada departemen-departemen utama, dan biasanya tidak perlu lapor langsung kepada Manajer Produksi, atau Manajer Pemeliharaan. Sering kali, untuk memberikan kebebasan dan kewenangan, Manajer Energi melapor langsung ke tingkat yang lebih tinggi, seperti kepada Direktur Operasi.

Perlu dipertimbangkan dengan hati-hati, keahlian dan pengalaman seorang Manajer Energi.   Kemampuan dibidang teknis biasanya merupakan kualifikasi utama, meskipun kadang-kadang pada beberapa kasus tidak mutlak.   Pada perusahaan yang kecil, keahlian teknis yang memadai mungkin berguna karena dalam hal ini Manajer Energi mungkin akan sering kali melaksanakan sendiri sebagian besar pekerjaan yang menjadi tugasnya. Pada perusahaan yang lebih besar, dimana tenaga ahli teknik lebih banyak tersedia, Manajer Energi dapat dijabat oleh seseorang yang mempunyai pengalaman di bidang akuntansi atau manajemen umum.

Sebaiknya Manajer Energi ditunjuk dari dalam perusahaan sendiri, karena posisi ini memerlukan pengetahuan praktis yang baik dari seluruh aspek-aspek pengoperasian perusahaan, baik yang bersifat teknis maupun administratif.

Keahlian khusus yang penting bagi seorang Manajer Energi termasuk pengetahuan di bidang administrasi dan komunikasi.   Manajer Energi akan menggunakan banyak waktunya untuk meyakinkan rekan-rekan sekerja dan manajer puncak untuk menentukan langkah-langkah khusus yang harus dilakukan.

Kualifikasi ideal untuk seorang Manajer Energi seperti diuraikan berikut ini, meskipun pada prakteknya sangat jarang seseorang memiliki keseluruhan kualifikasi tersebut.   Namun demikian Manajer Energi yang baik harus mempunyai sebagian kemampuan/pengetahuan tersebut sebagai modal awal dan sebagian lagi dapat dipelajari, yaitu :

-    Mengenal dengan baik (familiar) terhadap kondisi perusahaan/gedung dan peralatan-peralatan pengguna energi yang ada.

- Kemampuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data serta menginterpretasikan data dalam bentuk yang sesuai untuk disajikan kepada manajemen puncak.

-    Pengetahuan tentang peralatan-peralatan pemakai energi (misalnya boiler,  heat exchanger, steam system, pencahayan, refrigerasi dan AC) beserta faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensinya.

-      Keahlian engineering, menentukan ukuran dan memilih peralatan, mengawasi pemasangannya serta menjamin pemeliharaan yang benar.

-   Kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara baik dengan manajemen maupun operator serta karyawan bagian pemeliharaan,  menjembatani antara pelaksanaan arahan manajemen dengan kebijaksanaan perusahaan dibidang efisiensi energi.

-   Kemampuan yang baik untuk mempertimbangkan kapan diperlukannya bantuan dari luar, misalnya konsultan atau vendor peralatan guna membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi.

-    Memahami dengan baik peranan energi didalam perusahaan, dalam kaitannya dengan elemen-elemen lainnya, seperti AC, boiler  dan lainnya.

-  Kemampuan berinisiatif untuk mengembangkan cara pemecahan permasalahan dengan mempelajari permasalahan yang ditemui oleh orang lain dimana saja atau di gedung lain dan mengadaptasikannya untuk kepentingan perusahaan sendiri.

Lebih dari itu, seorang Manajer Energi harus selalu terbuka wawasannya untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang yang berbeda serta mempunyai keahlian untuk meyakinkan orang lain bahwa jika diambil langkah-langkah yang tepat, maka penghematan dapat dicapai dan sangat berarti serta bermanfaat.

1.1.4   Intensitas Konsumsi Energi (Indeks Konsumsi Energi /IKE)

Untuk menilai tingkat hemat energi suatu gedung diperlukan suatu acuan yang bisa dipakai oleh pelaksana efisiensi energi di suatu gedung. Acuan ini bukan bersifat standar karena tingkat hemat suatu gedung akan berbeda untuk wilayah yang berbeda tergantung kondisi lingkungan dan aturan yang berlaku. Karena itu acuan yang dipegang bersifat dinamis yang bisa berubah sesuai dengan perubahan waktu dan perkembangan teknologi. Perubahan ini bisa terjadi sebagai contoh misalnya pada saat belum ditemukan lampu hemat energi, acuan tingkat hemat untuk lampu lebih besar dibandingkan setelah ditemukannya lampu hemat energi. Oleh karena itu intensitas konsumsi energi yang disebut juga  Indek konsumsi Energi  (IKE) yang akan dipakai adalah yang berlaku untuk Indonesia untuk kondisi waktu saat ini.

Tabel 1.4 Perbandingan Intensitas Konsumsi Energi Gedung Indonesia

No

Jenis Gedung

Intensitas Konsumsi Energi/IKE

kwh/m2/tahun

1

Rumah sakit

240

2

Pusat perbelanjaan

270

3

Hotel

260

4

Perkantoran Swasta

180

5

Perkantoran Pemerintah (AC)

165

6

Perkantoran Pemerintah (non AC)

65

Sumber kementrian ESDM, Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia

Saat ini Indeks Konsumsi Energi (IKE) yang dipakai untuk bangunan gedung berdasarkan acuan dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi  Energi yaitu dengan gambaran sebagaimana tabel diatas.

Besaran pada tabel diatas merupakan angka rata-rata IKE di gedung Indonesia. IKE dihitung dari perbandingan konsumsi energi total gedung terhadap total luas gedung. Jika nilai IKE suatu gedung lebih besar dari rata-rata diatas maka gedung dapat dikategorikan tidak hemat sebaliknya jika lebih rendah maka masuk kategori hemat. Jika gedung dapat dikategorikan tidak hemat maka kegiatan efisiensi energi harus dilakukan pada gedung tersebut.

Share:

Senin, 04 Juli 2022

Audit Energi Gedung




Definisi Audit Energi

Seperti halnya manajemen keuangan, untuk menelusuri penggunaan keuangan dan mengontrol penggunaannya yang tepat, maka digunakan audit keuangan sebagai alatnya. Dengan audit keuangan akan dapat diketahui penggunaan keuangan yang tidak tepat dan tidak benar sehingga pemborosan bisa ditekan dan bisa mengkondisikan pengelola keuangan untuk menyusun manajemen keuangan yang baik.

Demikian juga pada manajemen energi, untuk mengetahui  dan menelusuri aliran penggunaan energi digunakan audit energi sebagai alatnya. Dengan audit energi ini akan diketahui kebocoran-kebocoran penggunaan energi di gedung sehingga dapat ditentukan langkah-langkah yang tepat untuk menekan kebocoran–kebocoran tersebut dan pengelolaan energinya menjadi baik.

Pada bangunan gedung, sistem pengguna energi dapat dikelompokkan pada empat pengguna energi terbesar yaitu : Sistem AC, Sistem pencahayaan, sistem transportasi gedung dan peralatan kantor plus lainnya. Dari hasil survei sejumlah pihak (sumber Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi) persentasi penggunaan energi peralatan gedung komersial rata-rata  adalah seperti terlihat pada gambar di bawah ini ;


Gambar Persentase penggunana energi di gedung

Sumber : kemetrian ESDM

Dari gambar terlihat bahwa sistem AC menggunakan energi terbesar sekitar 60 % dari energi gedung dan diikuti oleh pencahayaan sekitar 20 %. Apakah implikasinya? Implikasinya adalah bahwa fokus kegiatan konservasi energi ini harus diarahkan terutama ke sistem AC dan kemudian pencahayaannya karena penghematan dikedua sistem ini akan memberikan hasil yang signifikan dalam program penghematan gedung.

Ada perbedaan hasil yang signifikan dalam melaksanakan konservasi energi di bangunan sebelum dan sesudah pembangunan gedung tersebut. Pembangunan suatu gedung komersial yang direncanakan secara matang untuk memenuhi kaidah-kaidah konservasi energi akan memberikan banyak keuntungan dan manfaat bagi pemilik dan pemakai gedung tersebut. Dengan perencanaan awal yang matang dan menyeluruh serta memenuhi kaidah-kaidah hemat energi tanpa mengorbankan kenyamanan pemakaian gedung seperti kenyamanan termal dan visual maka pemakaian energi gedung akan lebih rendah dibandingkan dengan tanpa perencanaan konservasi energi. Dengan rendahnya pemakaian energi gedung akan memberikan manfaat untuk pemilik gedung karena dapat menggunakan bangunan secara terus menerus karena biaya operasionalnya yang lebih rendah. Biaya operasional yang rendah untuk gedung komersial selanjutnya akan membuat harga sewa gedung menjadi lebih rendah sehingga mendorong para penyewa tetap bertahan di bangunan tersebut.

Dari berbagai kegiatan audit yang telah dilakukan ditemukan bahwa banyak sistem AC gedung terpasang oversize dari yang dibutuhkan dan bisa sampai dua kali lipat dari kebutuhannya. Ini mengandung arti dalam perencanaan awalnya tidak memasukkan aspek konservasi energi sehingga konsumsi energi listrik dari sistem AC sangat tinggi dan mempengaruhi biaya operasional gedungnya, sementara itu modifikasi sistem AC existing tidaklah merupakan hal yang mudah untuk dilakukan, jadi gedung akan cenderung terus dengan kondisi operasional penggunaan listrik yang tinggi sebagai akibat perencanaan awal yang tidak melibatkan aspek konservasi energi.

Konservasi energi adalah salah satu bentuk pengelolaan energi yang benar dan efisien yang sebaiknya dimasukkan sebagai salah satu aspek dalam perencanaan pembangunan gedung. Namun walaupun begitu Konservasi energi masih tetap bisa dilakukan setelah gedung dibangun. Alat utama untuk kegiatan konservasi energi pada bangunan gedung yang telah berdiri adalah audit energi.

Selain itu dengan adanya audit energi pelaksanaan efisiensi energi dapat dilaksanakan selama operasional gedung sehingga gedung yang melaksanakan efisiensi energi disemua aspek operasional gedung akan mendapatkan nilai tambah dari biaya operasi gedung yang murah sehingga nilai jual dan sewa gedung menjadi tinggi.

Kapan Audit energi diperlukan

Audit energi adalah kegiatan untuk mengetahui pola pemakaian energi dari peralatan pengguna energi yang ada di gedung. Pola pemakaian energi ini diamati pada peralatan-peralatan utama pengguna energi seperti AC, lift, Pencahayaan, boiler dan motor-motor. Dengan didapatkannya pola pemakaian energi maka langkah-langkah untuk melakukan efisiensi dan pengelolaan energi di gedung menjadi lebih terarah.  Untuk menetapkan tingkat efisiensi peralatan penggguna energi yang ada di gedung dilakukan perbandingan hasil pengamatan dan pengukuran dengan acuan standar yang berlaku seperti SNI dan lainnya.

Audit energi : ” Kegiatan untuk mengidentifikasi dimana dan berapa energi yang digunakan serta berapa potensi penghematan yang mungkin diperoleh dalam upaya mengoptimalkan penggunaan energi pada fasilitas unit/sistem gedung”.

Tujuan audit energi : ” Adalah untuk menentukan cara yang terbaik untuk mengurangi penggunaan energi per satuan output dan mengurangi biaya operasi gedung ”

Suatu kegiatan audit energi adalah merupakan alat untuk mendukung program konservasi energi disuatu fasilitas pengguna energi. istilah konservasi energi ini harus dibedakan dengan penghematan energi. Konsep yang berlaku dari konservasi energi ini adalah suatu kegiatan untuk mendukung pemakaian energi yang tepat dan efisien pada suatu fasilitas pengguna energi tanpa mengurangi produktifitas atau kenyamanannya. Untuk mencapai ini diperlukan batasan-batasan standar yang harus ditaati. Dengan adanya batasan ini maka penghematan energi tidak akan dilakukan secara semena-mena sehingga merugikan pengguna, sebagai contoh ada persepsi yang salah menghemat energi lampu pada ruangan kantor adalah dengan mematikan begitu saja sejumlah lampu pada ruangan itu, sehingga mengakibatkan sulitnya kegiatan membaca dan aktifitas lainnya. Yang benar mematikan lampu pada ruangan kantor dibatasi oleh tingkat terang minimal (lux) yang harus dipenuhi agar sesuai dengan peruntukkannya. Sebagai contoh dalam ruangan tingkat minimal tingkat terang adalah 350 lux, kemudian setelah diukur dengan alat ukur pencahayaan tingkat terangnya menunjukkan 400 lux, maka pada ruangan  tersebut dapat dilakukan pemadaman sejumlah lampu sehingga rata-rata tingkat terangnya turun menjadi 350 lux.

Uraian diatas akan mengarah kepada pertanyaan kapan suatu fasilitas pengguna energi (gedung atau lainnya) perlu melakukan audit energi.

Sesungguhnya kita tidak secara mudah bisa mengatakan suatu fasilitas pengguna energi itu boros dalam penggunaan energinya, yang paling mungkin kita menduga bahwa suatu fasilitas pengguna energi berindikasi boros energinya. Tapi sebaiknya  suatu fasilitas pengguna energi baik gedung ataupun lainnya perlu diaudit penggunaan energinya ada ataupun tidak indikasi penggunaan energi yang boros.

Gambar berikut memperlihatkan Skema kerja audit energi disuatu fasilitas pengguna energi.

Gambar memperlihatkan bahwa sesungguhnya audit energi itu merupakan suatu bagian dari siklus kegiatan konservasi energi yang dilakukan pada suatu fasilitas pengguna energi untuk tetap menjaga penggunaan energinya yang efisien



Skema kerja audit energi disuatu fasilitas pengguna energi

Dalam gambar terlihat bahwa audit energi dimaksudkan untuk mendapatkan peluang-peluang penghematan energi dari suatu fasilitas pengguna energi. Sehingga bisa dibuat sejumlah rekomendasi-rekomendasi program konservasi energi. Rekomendasi-rekomendasi ini dari sisi pembiayaannya dapat dipilah pada tiga kategori yaitu No/low cost, medium cost, dan high cost. Kategori ini relatif sifatnya untuk masing-masing gedung karena tergantung aset serta modal yang dimiliki oleh pemilik gedung. Rekomendasi yang bersifat medium dan high cost masih memerlukan adanya studi kelayakan agar dapat diimplementasikan sehingga memberikan penghematan energi yang nyata.

Hasil implementasi rekomendasi konservasi energi baik yang low cost, Medium cost ataupun yang high cost selanjutnya dimonitoring selama periode tertentu dan dikaji keberhasilannya dibandingkan dengan kondisi sebelum pelaksanaan implementasi konservasi energi.

Kegiatan konservasi energi akan diulangi pada periode berikutnya yang akan ditentukan oleh pemilik fasilitas dan semuanya itu akan dimulai lagi dengan audit energi. Periode siklus kegiatan konervasi energi ditetapkan oleh masing-masing pemilik fasilitas, minimal dalam satu tahun siklus konservasi energi ini diulangi.

Berikut adalah Langkah-langkah kegiatan audit energi yang dilakukan di gedung, yaitu:

  1. Melakukan pengukuran pada sistem kelistrikan dengan mengamati, kualitas kelistrikan a.l. : faktor daya, daya listrik, energi, harmonik dll.
  2. Melakukan pengukuran pada sistem Pengkondisi udara gedung mencakup : pemakaian daya dan energi listriknya, pola pemakaian sistem AC,  tingkat kenyamanan serta diamati juga kondisi disainnya.
  3. Melakukan  pengukuran dan pengamatan pada sistem pencahayaan gedung, kegiatan ini mencakup : pengamatan kondisi tingkat terang, daya terpasang pencahayaan serta pemakaian sistem pencahayaan yang hemat energi
  4. Melakukan Pengamatan pada selubung bangunan gedung, kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan selubung gedung dalam menghambat laju aliran panas dari luar gedung.
  5. Melakukan pengukuran dan pengamatan pada peralatan lainnya pendukung aktifitas gedung seperti : lift, escalator, boiler, STP, pompa dll.

Langkah-langkah audit energi ini selanjutnya akan diikuti analis dan evaluasi kondisi real untuk membuat rekomendasi konservasi energi yang akan diimplementasikan untuk mendapatkan penghematan energi yang nyata.

Seperti juga halnya audit keuangan, audit energi merupakan suatu penelusuran atas sumber daya energi dari mulai masuknya sampai ke pengguna akhir untuk mencari kebocoran kebocoran serta membuat rekomendasi yang akan memperbaiki sistem pemanfaatan energi dari suatu fasilitas (gedung atau pabrik). Dapat dikatakan audit energi ini dilakukan hanya untuk gedung yang sudah berdiri (existing) bukan untuk gedung yang baru dalam rencana. Namun demikian kaidah-kaidah dan batasan-batasan konservasi energi dalam audit energi bisa dipakai untuk perencanaan awal gedung yang akan dibangun.

kegiatan audit energi pada bangunan gedung harus melihat aspek-aspek yang terkait dengan gedung yaitu :

·        Sistem kelistrikan Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Tata Udara Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Tata Cahaya Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Selubung Bangunan Gedung Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Pompa dan Perpompaan Pada Bangunan Gedung

·        Sistem Peralatan lain (lift escalator dan boiler) Pada Bangunan Gedung

·        Sistem otomasi terintegrasi gedung (BAS) Pada Bangunan Gedung

Audit energi adalah alat, jadi bukan hasil kerja atau bukti keberhasilan konservasi energi di gedung. Hal-hal yang menjadi faktor keberhasilan kegiatan konservasi energi di gedung adalah pemilihan teknologi yang tepat serta kreatifitas untuk membuat disain atau modifikasi sistem menjadi lebih efektif dalam menghemat energi serta tentunya pengalaman yang baik.

 1.  Sistem kelistrikan gedung

Sumber utama energi untuk operasional gedung saat ini adalah dari listrik. Listrik ini bisa disuplai dari PLN atupun dari genset atau gas engine milik sendiri. Akan lebih baik jika dalam perencanaan awal  sudah dilibatkan aspek konservasi energi dalam pembuatan sistem kelistrikan gedung. Aspek konservasi energi dari sistem kelistrikan gedung adalah terbaginya  beban secara merata pada masing-masing fasa, telah terpisahnya masing-masing beban seperti AC, penerangan dan lift pada saluran kabel yang tersendiri. Telah adanya alat pengukur konsumsi energi lisitrik  pada masing-masing sistem pengguna energi sehingga pemakaian energinya dapat dimonitor. Monitoring dilakukan untuk menilai keberhasilan sejumlah langkah konservasi energi yang bisa dilakukan pada sistem-sistem pengguna energi tadi.

Selain itu dengan telah terpisahnya beban listrik sistem pengguna energi pada saluran kabel yang berbeda akan memudahkan kontrol operasi sistem tadi apalagi jika gedung menggunakan sistem otomasi terintegrasi  (Building Automation System/BAS).

Pemasangan  kapasitor bank pada jaringan listrik diawal pembangunan  juga akan meningkatkan efisiensi penggunan listrik sistem kelistrikan gedung. Jika hal itu tidak dilakukan, minimal ada alokasi tempat yang tepat di panel induk untuk pemasangan kapasitor bank ini dikemudian hari,

Pemilihan genset yang efisien dalam mengkonsumsi bahan bakar juga diperlukan seandainya genset diperlukan untuk mengganti suplai listrik dari PLN saat beban puncak. Genset juga layak  digunakan saat dimana harga energi alternatif pengganti solar yaitu BBN biosolar harganya cukup murah dan ekonomis.

2.  Sistem Tataudara pada bangunan gedung

Pada bangunan gedung sistem tataudara menjadi komponen utama yang paling besar penggunaan energinya yaitu sekitar 60 persen. Penggunaan yang sangat besar ini perlu menjadikan sistem AC sebagai fokus utama dalam kegiatan penghematan energi di gedung. Sistem AC gedung pada umumnya dapat dibagi dua bagian utama yaitu sistem refrigerasi yang merupakan penggerak utama pengkondisian udara dan sistem tataudara. Sistem refrigerasi ini terdiri atas kompresor, evaporator, kondenser dan katup ekspansi. Pada umumnya sistem refrigerasi ini menggunakan refrigerant (freon) yang saat ini masih banyak menggunakan refrigerant yang menyebabkan kerusakan ozone serta menimbulkan pemanasan global. Sementara sistem tataudara mengalirkan udara pada duct setelah didinginkan oleh sistem refrigerasi tadi. Sistem tataudara terdiri atas duct aliran udara, kipas pengalir udara suplai dan diffuser pendistribusi udara dingin.

Parameter tingkat hemat sistem AC gedung ditandai dengan efisiensi sistem refrigerasinya dan pencapaian kenyamanan ruangan sesuai standar kenyamanan orang Indonesia. Tingkat efisiensi sistem AC diukur dengan kemampuan pengambilan panas gedung dibandingkan dengan energi listrik yang dikonsumsi. Angka acuan efisiensi sistem refrigerasi gedung menurut SNI tahun 1993 yang dikeluarkan oleh Puslitbang pemukinan Departemen Pekerjaan Umum adalah maksimum kw/TR sebesar 0,9. Angka ini menunjukkan bahwa sistem refrigerasi maksimum menkonsumsi listrik 0,9 kW untuk menghasilkan kemampuan mengambil panas gedung sebesar 1 Ton Refrigerasi atau 12.000 Btu/hr atau 3024 kcal/jam. Sementara tingkat kenyamanan dalam ruangan dimana sistem AC-nya  beroperasi pada kondisi efisien energi adalah pada suhu 25 + 2 oC  dan kelembaban udara relatif sebesar  60 +10 %

Ada berbagai macam sistem refrigerasi yang dapat dipilih untuk kondisi gedung tertentu seperti sistem chiller water cooler, chiller air cooler, sistem package  atau kombinasinya. Sementara pada sistem distribusi udara bisa menggunakan sistem seperti AHU dengan chilled water atau refrigerant atau juga menggunakan fan coil sistem untuk mengalirkan udara dingin ke ruangan-ruangan yang dilayani oleh sistem AC.

Pemilihan sistem refrigerasi dan distribusi udara ditentukan oleh banyak faktor terutama adalah kondisi dan lokasi penempatan dari sistem AC di gedung serta anggaran yang dimiliki oleh pemilik gedung. Selain itu yang terutama adalah bahwa sistem AC yang didisain kapasitasnya sesuai dengan beban panas yang harus diatasi oleh system AC.

Program konservasi energi pada sistem AC lebih baik dilakukan pada saat awal perencanaan bangunan dibandingkan dengan setelah bangunan itu berdiri karena modifikasi sistem yang telah ada akan lebih menyulitkan dan akan mempengaruhi bagian-bagian lain karena semua sistem telah dihitung secara terintegrasi dari awalnya.

Perencanaan awal dalam penentuan jenis sistem AC yang dipilih serta peralatan yang diadakan sangat menentukan dalam pencapaian tujuan konservasi energi pada sistem AC gedung.

3. Sistem tatacahaya pada bangunan gedung

Pada bangunan gedung sistem tatacahaya menempati urutan kedua dalam mengkonsumsi energi listrik. Pada bangunan gedung pencahayaan digunakan untuk area publik seperti ruangan kantor, lorong-lorong dan lobby sehingga  pencahayaannya lebih terdistribusi.

Perencanaan pencahaayan gedung yang hemat energi akan lebih baik dilakukan sebelum bangunan berdiri karena sifatnya yang terdistribusi sehingga mempengaruhi  area yang luas. Perubahan sistim pencahayaan atau retrofitting setelah bangunan berdiri akan memberatkan biaya perubahan langit-langit dari ruangan yang diperbaiki.

Untuk mendapatkan pencahayaan dalam ruangan yang optimal diperlukan pemilihan jenis lampu yang hemat energi sesuai dengan peruntukkan ruangan serta pemilihan armatur yang efektif dalam merefleksikan  cahaya ke bawah.

Penentuan jenis warna dinding serta tinggi letak dari armatur sangat menentukan tingkat pencahayaan yang sampai ke bidang yang akan diterangi. Tingkat terang yang ingin dicapai akan menentukan berapa banyak jumlah lampu dan daya masing-masing lampu yang diperlukan.

Pencahayaan ruangan yang hemat energi ditentukan juga  oleh efisiensi lampu yang ditandai dengan parameter lumen per watt yang menunjukkan jumlah berkas cahaya yang dihasilkan untuk tiap 1 watt daya listrik yang dikonsumsi.

Untuk penerangan publik yang menggunakan jenis lampu fluorescent, penggunaan ballast elektronik akan lebih mengurangi daya listrik yang dibutuhkan untuk pencahayaan dalam ruangan.

Indonesia adalah negara tropis yang dianugrahi cahaya matahari yang melimpah sepanjang tahun. Sumber cahaya yang gratis dan murah ini tidak secara optimal dimanfaatkan sebagai sumber cahaya penerangan alami siang hari. Ada kekhawatiran bahwa penggunaan cahaya alami ini akan menambah beban AC gedung. Sebenarnya hal itu tidak beralasan selama cahaya alami yang dimanfaatkan itu adalah cahaya pantulan dan bukan cahaya langsung. Cahaya pantulan memiliki panjang gelombang yang tinggi sementara cahaya langsung masih mengandung spektrum yang memiliki panjang gelombang rendah. Spektrum dengan panjang gelombang rendah ini akan menimbukan efek rumah kaca sementara cahaya pantulan tidak menimbulkan efek rumah kaca dan beban pendinginan AC yang terjadi tetap rendah.

4. Sistem selubung bangunan

Selubung bangunan adalah bagian terluar dari gedung yang melingkupi seluruh konstruksi bangunan dalam menghambat aliran panas dari lingkungan luar. Yang menjadi komponen selubung bangunan ini adalah dinding beserta jendela kaca dan pintu serta selubung atap.

Luasan dan jenis selubung bangunan (dinding dan atap) mempengaruhi perolehan kalor/panas (heat gain) akibat konduksi panas dari luar dan panas dari radiasi matahari. Untuk mengurangi perolehan panas yang berarti pula menurunkan beban pendinginan sistem AC, maka pemilihan dinding luar, kaca, atap dan kombinasi luasan dinding dengan kacanya akan menjadi penentu efektifitas selubung bangunan dalam menghambat aliran panas dari luar.  Sistem AC di gedung  mendapatkan beban panas terbesarnya melalui  selubung bangunan, karena itu perhatian terhadap selubung bangunan ini harus yang paling mendalam.

Disain selubung gedung yang terlalu banyak melibatkan jendela kaca akan menyebabkan beban pendinginan AC yang besar sehingga akan membuat konsumsi listik untuk AC menjadi besar. Diperlukan suatu kombinasi antara dinding keras (tembok) dan kaca  dari selubung bangunan gedung yang optimal serta penggunaan peneduh dan vegetasi yang baik diluar gedung agar beban listrik untuk AC rendah.

Sebagai tolok ukur tingkat efektiftas selubung bangunan ini dalam mengatasi beban AC telah ditetapkan  untuk kondisi Indonesia ukuran RTTV (Roof Thermal Transfer Value) untuk selubung atap dan OTTV (Overall Thermal Transfer Value) untuk selubung dinding. Nilai maksimum yang diperbolehkan untuk kedua parameter ini adalah (berdasarkan SNI No SNI 03-6389-2000), yaitu

Nilai RTTV gedung maksimum adalah  = 45 watt/m2

Nilai OTTV gedung maksimum adalah = 45 watt/m2

Nilai 45 watt/m2  artinya adalah jumlah panas mengalir (dinyatakan dalam watt) melewati satu satuan meterpersegi selubung bangunan maksimum sebesar 45 watt. Jika lebih besar berarti suatu gedung tidak efisien, jika lebih kecil berarti sudah efisien

5. Sistem Pompa dan perpompaan

Dipastikan bahwa semua bangunan gedung memiliki pompa dan sistem perpompaannya yang terutama digunakan untuk mengalirkan air bersih. Secara umum system pompa menggunakan energi listrik cukup kecil tapi penghematan energi di pompa ini tetap diperlukan apalagi dengan system pompa yang efisien maka konservasi air juga bisa dilaksanakan.

6. Sistem Peralatan lain (lift escalator dan boiler)

Saat ini gedung komersial khususnya yang berada di kota besar tidak terhindarkan untuk menggunakan transportasi vertical. Hal ini terutama disebabkan keterbatasan lahan yang menyebabkan pembangunan gedung mengarah ke atas.

Perencanaan awal transportasi vertical yang efisien energinya ditentukan oleh faktor-faktor seperti peruntukan gedung, laju perkiraan jumlah orang dan pemilihan teknologi sistem transportasi verticalnya. Sistem transportasi vertical yang modern dan dapat diprogram ulang adalah sistem yang akan lebih mendukung program konservasi energi dalam gedung baik dalam perencanaan awal maupun retrofit dikemudian hari.

Selain lift beberapa gedung juga memiliki peralatan escalator atau tangga berjalan. Pada umumnya perkantoran tidak memiliki escalator dan biasanya banyak dipergunakan di Mall dan pusat perbelanjaan.

Selain itu beberapa bangunan pada umunya hotel dan rumah sakit memiliki juga peralatan boiler yaitu untuk menghasilkan uap air atau air panas untuk mandi serta laundry atau memasak terutama di hotel.

7.  Sistem Otomasi Terintegrasi Gedung (BAS)

Dengan kemajuan teknologi komputer dan informasi maka untuk meningkatkan performa operasi sistem-sistem pengguna energi saat ini telah digunakan building otomation system (BAS). Penggunaan BAS ini juga  dapat mengintegrasikan kerja sistem tadi. Pada operasional sistem AC penggunaan BAS akan dapat mengatur jam nyala dari sistem chiller dan AHU serta mengatur jumlah chiller yang nyala. Sementara pada lampu BAS ini akan dapat mengatur jam nyala dari lampu dan juga mengatur jumlah lampu yang nyala disesuaikan dengan pencahayaan alami siang hari yang masuk. Pengaturan lampu dan sistem AC tadi hanya dapat dilakukan oleh BAS dengan syarat bahwa jaringan kabel listriknya telah terpisah untuk masing-masing sistem.  Sementara itu pada lift penggunaan BAS dapat mengatur jumlah lift nyala sesuai jam yang telah ditetapkan.

Penggunaan sistem BAS ini sudah tentu akan dapat mendukung program penggunaan energi listrik yang efisien pada bangunan gedung dengan syarat bahwa sistem kelistrikan dan semua sistem pengguna energi tadi direncanakan secara terintegrasi dan dipersiapkan dari awal untuk dikontrol oleh BAS. Pemasangan BAS setelah gedung berdiri cenderung sulit dilakukan karena harus membongkar sejumlah dinding serta perlu mengurut alur-alur listrik dan memasang kabel-kabel control melewati tempat-tempat yang sulit.


Share: